Monday, September 27, 2021

Happily After


 Aku suka film produksi disney. Maknanya ada, jadi aku tidak menonton secara sia-sia menurutku. Ada satu hal yang membuatku berpikir. Mengapa mereka membuat akhir ceritanya 'Happily After'?

Saat kuliah S1 dulu, aku beberapa kali menjadi tim paduan suara untuk acara pelantikan sumpah dokter gigi. Percayalah, aku ini tidak bisa menyanyi, mungkin takdir yang membawaku ke dalam tim itu. Rangkaian acara yang paling kutunggu selain pengambilan sumpah adalah Speech dari Dokter gigi baru. 

“Kami bersyukur atas pencapaian hingga hari ini. Terimakasih kepada orang tua, guru-guru, teman-teman, dan penghargaan terbesar kami untuk pasien yang bersedia membantu kami. Kami percaya ini bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya.”

Isi speechnya selalu formatnya begini, dengan variasi kata-kata dari dokter gigi baru yang terpilih. Aku jadi berpikir akan kata “awal dari segalanya”, aku percaya ini bukan hanya pemanis tetapi memang kenyataannya seperti ini.

Setiap kita telah menyelesaikan atau mendapatkan sesuatu, kata “happily after” kurang cocok digunakan. Setelah menyelesaikan sesuatu, maka otomotis kita akan memulai awal yang baru lagi, dan berusaha lagi untuk menyelesaikan. Bukankah putaran stres, merana, dan crisis akan terulang? Lalu dimana letak “happily after” yang ditawarkan film Disney tersebut saat memulai awal ini? Apakah cinderella setelah hidup bersama dengan pangeran akan selalu bahagia? Apakah mereka tidak akan bertengkar hanya gara-gara secangkir kopi di pagi hari?

Apakah sebenarnya kata "bahagia selamanya" adalah kata ganti untuk "terbiasa"? Kita memang stres menghadapi sesuatu yang baru, tapi disamping itu kita juga sudah terbiasa menghadapi stres dan sudah tahu juga melepaskannya. 

Ketika yudisium untuk gelar sarjana tahun lalu, aku tidak menangis ataupun tidak tertawa tetapi lega. Lega akhirnya aku bisa menyelesaikan skripsi dan lulus semua mata kuliah tepat waktu, saat itu aku duduk di baris pertama. Bagaimana rasanya? aku merasa stres. Stres karena aku akan sangat mudah terlihat. Pikiranku saat itu sudah melayang ke kehidupan klinik yang susah berdasarkan spoiler senior-senior. Aku gugup, stress, tapi aku yakin akan terbiasa. Kurasa begitulah arti "happily after".

Menurutku, happily after  itu bukan tentang tidak pernah konflik saat dalam hubungan, bukan tentang tidak mengeluh saat banyak tugas, bukan tentang down saat dosen menegur, bukan tentang tidak kembali saat tugas tidak di accept oleh dosen, bukan tentang sedih saat teman meninggalkan, bukan tentang kepikiran saat dosen tidak membalas pesan, atau bukan tentang mereka menilaimu tetapi baru berjumpa dalam hitungan jari. Happily after itu tentang tidak menyerah. Hidup ini seperti jalan yang sedang dibangun. Awalnya ditaburi kerikil, setelahnya diberi aspal agar licin. Happily after juga tentang terbiasa, terbiasa tidak marah pada keadaan.

No comments:

Post a Comment