Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts

Saturday, January 28, 2023

Lucu


Aku punya rekomendasi lagu lagi, it's 'your shirt' dari chelsea cutler. Ini menceritakan tentang gagal move on. Melodinya enak didengar. btw, aku buta nada, jadi sebenarnya aku sok tau aja. wkwkwk, ngakak bgt melihat diri sendiri. Jadi, ini enak didengar aja. dah itu aja pokoknya.

Random things always the best. This one as example. Aku sedang meresapi rasanya tidak menjadi yang pertama, tidak menjadi cepat, tidak mengikuti timeline sosial, dan menjadi yang ditinggalkan.

Perasaannya tidak enak, awalnya. Terasa ingin mengejar untuk menyetarakan. Lumayan aneh. Awalnya juga merasa cemburu, tetapi lama-lama aku bisa mengikhlaskan. Aku mengikhlaskan dan menerima jika aku tertinggal untuk melapangkan dadaku. Aku butuh merdeka. Aku harus menyayangi tubuhku dengan cara membebaskan diriku dari segala yang membuatku pusing.

Setiap perasaan tidak enak itu datang. Aku akan belajar dan merajut. Belajar apa aja yang bisa dipelajari dan merajut apa saja yang ingin kurajut. lalu, jadilah barang-barang rajut yang random juga, sesuai mood.

Nah, saat udah bisa menerima kenyataan begini. Aku yang mencari perkara untuk diriku sendiri, mengajak seseorang berbicara. Aku keterlaluan sehingga kami berbicara terlalu dalam dan berakhir dia bilang aku nggak ada ambisi.

Serius nyesek sampai bikin emosi. Kan ambisi itu nggak harus di flexing kemana-mana, cukup diriku aja tau udah. Apa aku perlu pasang IG story betapa banyaknya ambisiku. Orang yang tampak lempeng-lempeng emang dikira yang menerima diinjak-injak gitu. Ih bikin emosi aja.

Ingin kutempeleng. Btw, emosi nggak ada gunanya, yang ada bikin tekanan darah naik saja, jadi mari kita lempeng dan apatis kembali.

Ambisiku cukup aku tau saja. Apa yang kuinginkan, kumimpikan, dan kucita-citakan cukup diriku saja yang tau. Hidupku adalah milikku, jadi terserah aku saja. Bye!

Tuesday, January 24, 2023

Dekat


"Kalau berteman itu jangan terlalu dekat. Pilih teman yang bisa di bawa ke rumah, yang bisa dibawa masuk atau tetap diluar saja, yang bisa dibawa ke kamar. Itu semua harus  dipilih. Jika terlalu dekat, takutnya jika sudah berjarak gak ada obatnya."

Itulah kata guruku, nasihat yang menjadi penutup malam itu. 

Kata-kata itu tergiang-giang di kepalaku, sehingga timbul peertanyaan “bukankah itu jahat jika sudah berteman tetapi menjadikan kecurigaan sebagai penghalang? Bagaimana bisa kita tidak percaya sepenuhnya pada teman kita? Ya kalau berjarak gitu, nggak usah berteman Aja sekalian.” Inilah pertanyaan yang kemudian terjawab tanpa kutanyakan pada orang-orang. Aku mendapatkannya setelah menjalani beberapa waktu kehidupanku.

Setelah mengalami banyak kejadian, aku berubah haluan menjadi setuju dengan nasihat guruku. 

Menjaga jarak adalah kunci untuk awet pertemanan. Kita nggak perlu tahu semua hal, kita nggak perlu ingin tahu mengenai masalah yang tidak perlu kita tahu. Ada hal yang menyakitkan yang sebaiknya tidak diketahui agar pertemanan tetap langgeng. Juga, ada hal yang menyenangkan yang sepatutnya disimpan dalam-dalam agar tak menimbulkan rasa iri di hati.

Komunikasi dan pemahaman adalah pasangan untuk jarak. Kita harus memberi tahu apa yang sepatutnya saja dan kita saling memahami yang kemudian akan memunculkan sifat saling menghargai. 

Dulu aku juga kira tidak perlu set boundaries antara teman, ternyata itu perlu. Boundaries yang sama-sama paham, jika kita melewatinya akan jadi bumerang untuk hubungan kita. 



Wednesday, January 4, 2023

Lagi


Aku menunggu disemangati, tetapi tidak kunjung datang. Aku cukup naif, ternyata.

Jika dapat kembali ke masa lalu, maka akan aku jahit mulutku agar tidak berbicara hal yang aneh-aneh. Oh ya, tidak menyemangati juga. Energi positif kuberikan, lalu dilempar kepadaku tidak semangatnya.

Sungguh melelahkan selayaknya memilin benang sepanjang lapangan bola. Apa melelahkan atau kesepian? Ah, bodoh, itu saja tidak bisa dibedakan.

Disana. Iya, disana. Mereka sedang mengulas kehidupanmu dan kamu disini, sedang berlutut untuk bangkit melukis masa depanmu. Bodoh, bodoh, bisanya kamu baik pada orang sejahat itu.

Kamu kira mereka memikirkanmu? Tidak. Itu hanyalah segerombolan manusia yang memikirkan diri sendiri. Kamu? Hanya aktor dalam cerita yang dikeluarkan mulut mereka.

Kamu! iya, kamu. Jangan terlalu merendahkan dia. Dia tidak menanggapimu karena sedang menyiapkan bom yang sewaktu-waktu akan ditempelkan ke badan angkuhmu itu. Halah, jangan terlalu tinggi saat bicara, soalnya tidak terdengar. Buang-buang suara saja.

Ah, tapi bagus juga sih. Kamu merendahkannya, itu berarti kamu sudah membangunkannya. Anak tidak ada harapan itu dulunya diselimuti ambisi. Siap-siap, dia akan datang menyerangmu tepat di depan wajahmu.

Wednesday, November 2, 2022

Harap


 Teman-temanku sudah menyelesaikan ujiannya. Dua dari lima teman dekatku ikut juga. Aku senang. Mereka bekerja keras untuk itu, jalan yang mereka tempuh sangat berliku. Jangan lupa untuk berterimakasih kepada diri kalian sendiri, teman.

Terimakasih sudah mengingatku dengan mengirimkan pesan pribadi kepadaku sebelum kalian ujian, aku sangat tersipu sekaligus terharu. Aku tentunya tidak memiliki keberanian untuk menyapa kalian terlebih dahulu, segan rasanya, dan aku rasa sudah memalukan mengeluhkan lelahnya perkoasan dengan kalian. Mungkin ditelinga kalian apa yang kukeluhkan hanyalah dongeng-dongeng yang sudah kalian lewati. Jadi, terimakasih sudah membuka pembicaraan denganku.

Aku turut senang melihat postingan euforia kalian di sosial media. Hatiku memang terasa tersentil saat melihatnya, tapi itu hanyalah perasaan pribadiku saja yang akhirnya kubagikan di laman pribadiku ini. Setengah diriku menyalahkan diriku, "mengapa aku tidak bisa secepat kalian?", tapi setengahnya lagi berteriak, "Ini bukan kamu yang lamban, Tuhan hanya terlalu menyayangimu dengan memantaskanmu sedikit lebih lama dari teman-temanmu."

Aku tahu yang seharusnya kulakukan, yaitu menonaktifkan sosial media agar tidak mengetahui apapun sehingga aku tidak perlu bersedih begini. Aku tidak perlu iri seperti ini. Aku tidak perlu sentimentil begini. Sekarang karena tanganku yang tidak bisa diam, aku jadi menggalau begini.

Ya Tuhan, kuatkanku dalam perjalanan ini, berikanlah pikiran yang jernih untuk menghadapi ini, bersihkan hatiku dari kedengkian terhadap yang hal tidak jelas ini.

Mereka tidak salah, yang salah itu aku karena tidak bisa menahan diri. Mereka hanya mengapresiasi diri, sedangkan aku tidak bisa menjaga mataku sehingga bisa melihatnya, lalu bersedih akibatnya. Ya Tuhan, aku berserah diri padamu.

Friday, September 2, 2022

Terhenti


Btw, aku lagi suka playlist yaeow di spotify. Bagi yang suka vibe sendu, aku sarankan untuk mendengarkan. Candu banget musiknya. Aku ga terlalu  paham makna yang terkandung dalam lirik lagu, tapi untuk tone musiknya, aku bisa kasi rate 9/10. 

Katanya, jangan lihat progres orang lain. Nikmati aja jalan yang udah ada milik diri sendiri. Setiap orang punya waktunya masih-masing kok, ya tentunya beda-beda. 

Ini ungkapan yang sering dikatakan. Ada yang mengatakan ini sekedar basa-basi, ada juga yang benar-benar. Tapi, lebih sering diungkapkan oleh orang yang sudah pasrah terhadap keadaan. Seperti siapa? ya, seperti aku ini.

Mengeluh. Mengeluh dan mengeluh. So, where my syukur? Aku tanya ke diri sendiri. Lemme tell u, mengapa aku punya pertanyaan ini. 

Beberapa bulan lalu aku ngopi, ditempat biasa, sambil buat tugas dan sambil tunggu adikku pulang sekolah. Selang 10 menit, ada saja pengamen atau pengemis yang datang, banyak metode yang mereka gunakan. Ada yang beruntung dan ada yang  dalam proses menunggu.

"Kenapa mereka memilih jalan ini?" Aku tanya ini pada temanku dan pertanyaan ini pernah juga aku tanya ke kakak iparku.

"Bisa jadi awalnya coba-coba, lalu menguntungkan, maka dilanjutkan atau mereka sudah kehabisan cara dan ini adalah jalan satu-satunya." jawab kakak iparku saat itu.

Posisiku sekarang juga adalah menunggu. Menunggu kepastian dan menenangkan diri. Ini membuatku iri pada mereka yang sedang berprogres. Mengiri di saat aku dipaksa berhenti oleh keadaan. Mungkin 10 tahun kedepan, masalah kali ini adalah masalah yang paling remeh diantara masalah-masalah yang aku hadapi. Untuk saat ini, aku seperti sedang melihat duniaku runtuh. Aku tidak bisa lagi merasa lebih bersyukur dengan membandingkan hidupku dengan hidup si pengamen. Aku sedang merasa tidak baik-baik saja dan hasil rajutanku bertambah banyak saja.

Aku sedang menunda kelulusanku sendiri. Aku sudah tidak tahu lagi titik masalahku. Aku sudah tidak memiliki pendapat untuk diriku sendiri. Aku mengikuti alur yang sengaja dibuat berliku-liku. 

5 stages of grief ku masih depression, belum sampai ke tahap acceptable. Bisa jadi aku akan kembali menghadap jika sudah tiba ke tahap acceptable. Saat itu pasti aku sudah pasrah tingkat dewa meskipun dihantam hingga sekujur tubuhku remuk. Aku tidak suka perasaan menggebu yang terpendam dalam diriku, bagai tak ada hari esok ini. Aku mencintai diriku yang rileks, yang tidak 'dapat' pun masih oke saja. Bukan begini, terburu-buru mengejar langkah mereka-mereka, meskipun aku sadar, langkahku tak sebesar milik mereka. Ah satu lagi, perasaan iri, ini membuatku seperti orang tidak waras. Seharusnya aku tidak perlu iri. Setiap jalan akan ada ujungnya, ujungku beda dengannya.

Mau tau kenapa aku jadi kaku begini? kerja sesuai aturan? sebelum bekerja memastikan diri untuk pelajari SOP terlebih dahulu? karena aku apes. Apes saat aku tidak mengikuti aturan, aku akan terjebak. Aku akan ketahuan. Aku tidak berani curang karena ini.

Aku ini sudah pasrah terhadap keadaan. Ungkapan "...setiap orang memiliki waktu masing-masing." masih saja membal di diriku, tapi makin kesini makin benar saja kata-katanya dan makin jelas saja pembuktiannya.

Friday, April 22, 2022

Nyata


 I love being alone, but i hate being lonely. Aku sudah dibiasakan sendiri sejak kecil, malah aku kira diriku ini adalah anak tunggal. Siapa yang patut disalahkan atas pemikiranku saat itu? jawabannya tidak ada. Karena tidak ada yang menduga dipikiran anak kecil akan muncul pikiran seliar itu.

Aku tidak suka keramaian. Saat aku tertekan, maka aku bisa diam sepanjang jalannya keramaian tersebut. Aku bisa digolongkan introvert, tapi aku juga bisa menjadi ekstrovert saat aku mau. Semuanya tergantung situasi.

Beda cerita jika sedang bersama teman dekat, maka aku akan banyak cerita dan ada saja bahan yang bisa kubicarakan. Jika mereka menyadarinya, tadi itu aku sedih dan aku marah. Aku tidak suka lukaku diungkit karena aku tidak mengungkit luka orang lain semudah itu. Aku tidak suka lukaku dibanding-bandingkan karena aku tidak membandingkan luka orang lain. Setiap luka itu berharga. Luka itu tempaan untuk keberhasilan. Menurutmu sepele, tetapi tahukah? aku ingin mati menghadapinya. Kamu tahu? nomor sepatu kita berbeda. Aku sangat berharap untuk dimengerti. Aku butuh progres dan aku tahu kalian juga butuh progres. Tolong sedikit mengerti bahwa duniaku memang benar hancur untuk saat ini karena masalah ini. Aku tidak sedang bercanda. Malah, dipikiranku yang sempit ini ada keinginan menyerah, lalu berhenti.

"Mungkin ini belum waktunya. Tuhan punya jalan dan waktu terbaik."

ini adalah nasehat yang kupegang. Inilah optimis tersembunyi diantara pesimis. you know? untuk bisa kembali berpikir positif setelah diterpa kejadian-kejadian diluar ekspektasi itu tidak mudah. Aku butuh menangis berjam-jam terlebih dahulu, berpikir sendiri, makan sendiri, lalu bisa pikiranku kembali waras.

"Ada nangis sit setelah itu?"

Bukan berniat bohong, tapi aku akan jawab "gak kok.", faktanya aku nangis tengah malam hingga mukaku bengkak. Aku terlalu malas untuk mengakui jika aku menangis, secuprit omong kosong yang kubagikan hanya agar tidak dianggap remeh. Sungguh menyedihkan.

Aku alergi hampir semua makanan, makanya aku tidak suka makanan yang dicampur karena aku tidak tahu apa saja yang sudah dimasukkan ke dalam situ, jadi sulit untuk diidentifikasi. Aku merasa tidak dihargai, jadi aku mohon untuk berjarak. Tidak perlu dicari, cukup instropeksi saja.

Melihat rangkuman nilai yang diberikan, bagai bom yang dilempar ke muka. Sangat mencengangkan. Apalah daya usaha, tak dinilai dengan sesuai. Mengambil materi orang, langsung meluncur mendapatkan yang tertinggi. Sungguh ingin mengomentari, tapi bukan pemegang kekuasaan.

Inilah kenyataan yang perlu dihadapi di waktu ini dan umur segini. Tak perlu sangat, sangat bersedih, sangat senang. Inilah hidup, cukup ikuti aliran yang ada, lalu jadilah maka jadilah.


Monday, December 13, 2021

Pulang



Beberapa hari yang lalu aku baru saja menamatkan novel "Pulang" karya Tere Liye, ini kali keduaku menamatkannya. Pertama kali kutamatkan novel ini sekitar 1 tahun yang lalu. Yah, pandemic make me have a lot of spare time. Aku juga merasa aku cukup gila bisa menamatkan novel di tengah koas begini.

You know? Aku big fans dari Tere Liye, aku sudah membaca hampir semua karangan beliau. I really enjoy it. "Pulang" bercerita tentang Bujang yang dititipkan oleh bapaknya, Samad, atas restu ibunya, Midah, ke anak mantan bos samad di ibukota, tauke muda. Awalnya aku mengira Bujang itu akan dididik menjadi tukang pukul untuk keperluan keluarga itu, tapi Bujang ini adalah anak spesial dan syukurnya Tauke muda dapat melihat spesialnya itu. Jadi tauke menyekolahkan dan juga melatihnya menjadi tukang pukul, sekali menggarap dua pulau dapat tercapai. Begitulah istilahnya.

Tere Liye ketika menulis, tulisannya itu bisa membuatku termotivasi. Aku merasa ia mendukungku dalam perjalananku menggapai mimpi dan aku juga menemukan intinya, ada nilai yang diberikan, dan aku juga merasa aku bisa mengerti maksud tulisannya itu. Bukankah cukup membingungkan maksudku itu? tapi aku tidak akan menjelaskan maksudnya lebih lanjut. Cukup simpan saja pemahaman untuk diri kita masing-masing.

"Pulang" membawaku untuk menerima kelebihanku, kekuranganku, keburukanku, kebaikanku, dan setiap yang ada pada diriku. "Pulang" membawaku melihat diriku lebih dalam dan lebih detail. Aku rasa aku telah berlari terlalu jauh, bersedih terlalu dalam, dan bersenang terlalu tinggi, hingga aku tidak bisa kembali, "Pulang" ini membawaku ke tempat seharusnya ku kembali.

Awalnya, aku berpikir makna pulang itu adalah aku kembali ke keluargaku, kerabat, sahabat, atau teman-teman, tetapi setelah aku memahami lebih jauh maksud Tere Liye dalam novel itu, aku menemukan bahwa pulang itu berarti kembali kepada diri sendiri dan menerima diri ini bukan milik diri tetapi milik yang Maha Kuasa,  zat yang wajib wujud, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Ahh, cukup sekian saja aku bercerita hari ini, semoga ada isinya ya.

Friday, November 26, 2021

Marah














 I really hate my self when I'm angry, I can be so fucking rude.

Setelah kuingat-ingat, aku udah lama gak marah, selama ini jika ada sesuatu yang membuatku marah, aku akan pura-pura tidak peduli atau pergi keluar rumah, bisa jadi untuk main atau lainnya. Intinya aku tidak dirumah. Sekian lama itu akhirnya tadi pagi aku marah, aku sangat kasar jika marah. Kata-kata yang kukeluarkan akan menyakiti siapapun dan aku akan bertindak abusif. You know? mengendalikan diri saat marah itu sangat susah.

Seharusnya mereka mengerti dan paham, kenapa aku tidak pernah menjawab atau membantah atau bertindak-tindak anteng-anteng aja setiap hari, tapi faktanya mereka tidak pernah mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Aku tidak suka barang bekasku pakai dipakai orang lain. Menurutku, harus ada batas diantara itu semua. Contohnya gelas, aku tidak suka orang lain minum dari gelas bekasku minum kecuali sudah dicuci. Yaps, jika sudah dicuci, its fine silakan pakai. Lalu, setelah dipakai, taruh di tempat semula.

I think not all people will be understand it. Its make me tired. Sebelum marah, aku berusaha menekan emosiku agar tidak meledak. Aku diam dan diam. Jika ada seorang saja yang berusaha mengangguku, nah disitu awal mula aku akan marah, lalu akan berlanjut seharian. Aku akan mengungkit semua kesalahan. Kesalahan kecil akan tampak. Jika dibilang aku detail, maka bisa jadi. Jujur saja ini sangat melelahkan.

Setelah marah, kepalaku akan mengulang kembali kejadian tadi-tadi seperti kaset rusak. Aku tidak bisa minta maaf, karena marah tadi itu juga sebagai peringatan untuk mereka, aku bukan orang yang mudah marah jadi jangan pernah menginjakku, jika berani menginjakku maka aku tidak segan-segan akan lebih kasar padamu. Aku benci tertindas, jadi aku akan berusaha menaikkan diriku apapun yang terjadi. Aku orang cukup keras jika aku mau. Aku tidak berharap orang akan mengerti diriku, tetapi aku sangat berharap seseorang dapat menghargai orang lainnya.

Saturday, January 30, 2021

Ruang Sendiri


Oke. Aku mau bahas tentang ruang. Disini yang kumaksud bukan ruangan yang dalam gedung atau dalam rumah itu ya, tapi ruang dalam diri kita sendiri. Pernah ga sih kalian berada di tempat rame, tapi rasanya kalian sendiri? Duduk ngomong-ngomong lagi nongkrong, tapi merasa sepi?

I feel it. Perasaan itu gak setiap hari ada, tapi waktu datang, rasanya agak gimanaa gitu. Perasaan dimana aku gak mau balas chat siapapun, dimana aku gak minat berinteraksi sama siapapun, dimana aku memendam semuanya sendirian, dimana aku sedang mengingat seluruh masa sedihku, dimana untuk pegang handphone aja malas, dan maunya lakuin hal yang aku suka aja tanpa gangguan.

Aku gak meminta orang lain untuk mengerti kalau aku lagi di masa itu, tapi aku akan sangat senang kalau mereka mengerti. Gak lama kok, hanya beberapa hari aja. Aku gak lagi marah sama siapapun, aku hanya butuh ruang sendiri.

Ruang untuk berpikir tentang semuanya. 

Sunday, January 24, 2021

Balada Mahasiswa


 

12.00 pm, 18/01/2021

Sebagai seorang mahasiswa koas tentu banyak tuntutan yang harus kupenuhi. Mulai dari tuntutan dari orang tua, kampus, dan diri sendiri. Kalau dibilang ini rumit, tentu ini rumit.

Setelah menyelesaikan S1 dulu, saat baru-baru masuk Koas, dosen waliku pernah bilang (maaf aku gak menyebutkan namanya), “Nanti kalian bakalan di fase, terhambat Koas itu bukan karena pasiennya ataupun dosennya, tapi karena diri kalian.” Jujur aja, sebelum masuk Koas, aku dapat banyak spoiler dari seniorku. Ternyata spoiler itu lebih ngena waktu udah kita rasain.

Bulan depan, genap setahun aku koas alias setengah perjalanan, tapi requirement yang aku selesain belum setengah. Stress? Tentu. Sedih? Tentu. Mau gila? Tentu. Disamping itu semua, yang membuatku tetap waras cuma dengan satu cara, yaitu ingat kalau “Allah udah buat jalan masing-masing untuk hambanya.”

“Diri kalian.” Ini yang mau kubahas berdasarkan apa yang kurasain selama 1 tahun perjalanan ini. Pertama masuk koas awal bulan maret 2020, baru 2 minggu kerja di klinik abistu ada wabah covid-19. Pada awal oktober kembali masuk klinik, setelah para petinggi kampus menemukan solusi bagaimana mahasiswa Koas dapat berpraktik meskipun dalam keadaan wabah gini. Dari maret-oktober, lebih kurang ada 6 bulan kosong yang ku isi dengan mandi, makan, nonton, tidur, dan baca bacaan yang selama 4 tahun di S1 belum kubaca.

Selama 6 bulan itu, ada banyak hal yang kusayangkan, seperti “kenapa aku ga coba lebih banyak baca textbook tentang dental atau riset jurnal terbaru?”, “kenapa aku harus tidur lebih dari 8 jam sehari?”, “kenapa aku harus menikmati libur gak sengaja itu?”, “kenapa aku harus menyisihkan waktu untuk nonton drama?”. Seharusnya aku lebih banyak menyisihkan waktu untuk belajar, biar waktu ditanya dosen atau dalam diskusi, aku bisa jawab dan ngerti kemana harusnya arah diskusi. Bukannya kayak sekarang, plangak plongok kek orang bingung alias gak ngerti. Dasar aku, suka nyesal setelah kulewati.

Setelah akhirnya masuk koas lagi, ada hal-hal yang aku gak suka, contohnya aku memaksakan diriku untuk tetap positive thinking ketika aku gagal di satu tahap sedangkan temanku mulus aja. Ingin rasanya mengorek kesalahan si teman, mencari ketidaksempurnaannya, atau menginginkan biar si teman gagal juga. Tapi, aku gak bisa kayak gitu. Menjaga diriku tetap positive thinking agar aku tetap waras adalah jalan ninjaku.

Aku juga penganut prinsip, “setiap ada kegagalan, pasti didepan nanti pasti ada kesuksesan.” Karena itulah aku gak pernah mau mundur meskipun gagal. Waktu di marahi karena salah atau gak bisa, aku yakin setiap anak Koas di dunia ini punya jurus ampuh, begitu juga aku, “baik dokter, terimakasih dokter” atau “mohon maaf dokter, akan saya pelajari lagi dokter”. Bukannya terlalu semangat atau apa, tapi gimana ya bilangnya. Aku juga perlu selesain sekolah, kalau aku setiap dimarahi jadi down, mau berapa tahun aku sekolah ini. Semangat adalah jalan ninja.

Disamping itu semua, setiap abis dimarahi atau gak bisa jawab waktu diskusi, aku juga sering tanya sama diri sendiri, “apa betul ini jalanku?”, “apa dulu impianku gini?”, “apa ini jawaban atas doaku selama ini?”, “apa aku pantas untuk cita-cita ini?”, dan “apakah aku pantas untuk gelar ini dengan skill dan ilmu segini?”, setiap muncul pertanyaan yang kayak gitu, pasti bawaannya tidur. Soalnya gak nemu jawabannya dan sejauh-jauhnya pelarianku adalah tidur.


00.57 am, 24/01/2021

Apa setelah itu aku dendam? Setelah aku gali lebih jauh ke dalam diriku. Gak sih. Soalnya kayak kubilang tadi, Allah udah buat jalan masing-masing untuk hambanya. Dimarahi dosen? Heiii, ingat gak sih waktu SD dulu, aku yakin guru kita pernah bilang, “ditegur atau dimarahi itu tanda sayang.”, jadi aku anggap ditegur atau dimarahi dosen adalah tanda sayang mereka padaku. Mereka menegurku ketika aku tidak cukup ilmu untuk menjawab pertanyaan mereka, mereka memarahiku karena aku tidak cukup semangat untuk menghadapi pasienku. Mereka sedang membentukku menjadi pribadi yang bukan hanya kuat secara keilmuan tetapi juga mental.

Coba bayangkan, kalau aku gak pernah dibentak atau dimarahi, tiba nanti jumpa pasien dan pasien membentakku, pasti gak kayak sekarang (yang akunya biasa aja menanggapinya, gak terlalu sedih dan gak terlalu bawa perasaan) dan pasti bakalan cengeng.

Jalan temanku yang mulus? Setelah merenung lebih jauh, itu sama sekali gak masalah. Hidup ini kayak roda oke? Pernah di atas dan di bawah. Aku juga pernah di keadaan ‘mulus’ dan temanku pernah juga di keadaan ‘kerikil’. Jadi, mari kita menikmati yang sedang kita hadapi, meskipun sudah, tapi apa salahnya mencoba kan ya?

Mencoba ikhlas. Aku akan gunain kata ‘mencoba’ hingga aku benar-benar ikhlas. You know? Ikhlas itu susah loh dalam praktiknya, meskipun secara teori mudah auntuk dipaparkan. Tapi, kewajiban kita adalah ‘do our best’.

Oh ya, untuk sembuh itu proses. Bisa aja aku pura-pura untuk menerima dihari itu, tapi bisa jadi aku mendendam ke depannya. Penerimaan juga butuh proses, sama seperti sembuh.

 

Sunday, December 6, 2020

Insecure


Kali ini aku bakal bahas tentang 'perasaan' yang sering aku baca di media sosial. Insecure. tidak percaya diri atau semacamnya. Tahun ini umurku genap masuk ke awal 20-an, setelah aku me-review masa-masa ke belakang, ternyata aku belum merasakan insecure terhadap orang asing, teman, atau kenalan. Insecure-ku lebih terhadap keluargaku.

Pada awal umur belasan, mukaku penuh dengan jerawat, komedo, dan bintik-bintik kaya daging tumbuh di wajah (sampai sekarang masih ada). Aku sekolah kaya biasa, setiap ada yang komen, gak pernah peduli. Aku gak pernah mau peduli sama komen yang  berasal dari non-keluarga. Saat itu, aku menganggap diriku normal untuk punya jerawat sebanyak itu, kulit sekusam itu, belang segitunya, dan aku juga tau kalo wajahku tidak menarik perhatian. I know.

Tiba liburan sekolah, aku selalu menjadwalkan diriku untuk pulang kampung ke rumah masyik-ku (nenek) setiap liburan sekolah. Disana juga tinggal tanteku, "Kenapa mukanya itu? abangmu sih gak apa jerawatan begitu. Dia laki soalnya. Kamu ini perempuan, ya harus bersih dong mukanya." komen tanteku saat aku lagi bantuin dia masak. Gak tau kenapa, kata-kata beliau berhasil meruntuhkan kepedeanku.

Abangku juga berjerawat dan aku lihat dia gak ambil pusing untuk itu, jadi saat itu aku menyimpulkan kalo berjerawat bukan hal yang patut dipusingkan. Jadi waktu itu aku sangat menikmati jerawat-jerawatku. Gara-gara kata-kata beliau, runtuh semuanya. Pernah satu hari, aku dijemput pulang sekolah oleh abangku. Aku ngeluh kalo aku berjerawat dan teman-temanku juga berjerawat, dia cuma respon gini, "Setiap orang punya fasenya masing-masing. Ga apa jerawatan sekarang. mungkin nanti waktu SMA atau kuliah udah hilang."

Waktu itu, percayalah, aku menghabiskan hari-hariku hanya untuk telaah maksud dari kata-kata dia. Aku gak berani nanya balik ke abangku, takut kena omel. Gak tau kenapa, kata-kata dia nancep banget, juga di keadaan yang menyulitkanku aku selalu ingat itu sampai sekarang. "ada fase masing-masing."

Masuk SMA, aku masih bertahan dengan wajah break-outku dan wajah tidak menarik perhatianku. Saat SMA, fokusku hanya satu, yaitu belajar biar lulus ujian masuk universitas one-shot, terserah mau jurusan apapun, yang penting lulus sekali coba. 3 tahunku, gak pernah sedetikpun aku kepikiran tentang wajah atau apapun yang bikin insecure dan aku juga udah mulai skip pulang kampung setiap liburan.

Masuk ke fase kuliah, aku mulai gak nyaman sama wajahku sendiri (bukan karena orang lain, for my self) mulai coba-coba produk hingga akhirnya nemu satu klinik kecantikan dan stay disitu sampai hari ini yang syukurnya cocok di aku serta biayanya worth it di kantongku. Setelah setahun setengah di klinik tersebut, wajahku mulai baikan dan kata-kata "perempuan, ya harus bersih dong mukanya." terealisasikan. Kadang, aku juga berterimakasih dengan kata-kata yang bikin insecure karena bisa jadi acuanku untuk bangkit. but, tidak semua orang kaya aku kan ya? bisa jadi bukan bangkit malah tambah down. Kita gak tau keadaan mental seseorang, karena kita bukan dokter atau psikolog.

"Mulutmu adalah harimaumu" ntah kenapa aku suka banget sama kata-kata ini. Soalnya manifestasinya jelas banget. no debate. Mungkin orang yang ngomong, dia gak ingat lagi apa yang dikatanya, tapi bagi yang dikatainnya dan nancep dihati pasti ingat untuk waktu yang lama. Sekarang ini mungkin kita bisa jaga mulut kita sendiri agar bisa menjaga hati sendiri dan orang lain.


Wednesday, September 2, 2020

Cerita apa yang kamu punya hari ini?

 















“Cerita apa yang kamu punya hari ini?”

“Kamu senang banget hari ini. Cerita dong.”

“Aku pingin cerita ini ni.”

Aku bisa bilang ini adalah pertanyaan yang menjadi kelemahanku. Kalau ada yang nanya begini, pinginnya itu pasti cerita semuanya, cerita dari mulai pagi hari sampai malam hari dan kalau bisa serinci mungkin.

Weird? Gak sih menurutku. Aku rasa pertanyaan atau pernyataan seperti ini sangat membantu teman ataupun siapapun untuk release stress mereka dan membagi beban mereka. Menurutku, ada hal-hal yang cuma ada dalam kepala dan gak bisa dijabarkan dengan kata-kata yang akhirnya membuat kita terdiam. Gak semua orang tau cara melepaskan beban mereka, lalu akhirnya diam memendam saja dan jadi bumerang buat diri sendiri. Dengan adanya pertanyaan ini, mereka secara gak sadar menceritakan apa yang terjadi, apa yag menjadi beban mereka. Kita dengar pun sudah cukup, karena gak semua orang ingin diberikan solusi. Ya, yang mereka butuhkan ya cuma dengarkan.

Aku pribadi sangat bersyukur punya teman dan kolega yang masih mau meluang waktu mereka sekedar untuk balas chat, dengarin cerita gak jelasku, dan juga punya keluarga yang sediain kuping setiap aku mau cerita.

Tiga hari yang lalu, aku gak sengaja ceritain tentang my deep secret yang kusimpan. Gara-gara “apa cerita yang kamu punya hari ini?”, bablas semuanya. Aku ceritain apa aja semuanya. Lemah banget emang aku kalau udah dapat pertanyaan begini.

Hari itu, kawan kami baru datang ke Banda Aceh setelah 5 bulan di bireun. So, kami mau ajak hang out. Maka terpilih keude kopi harvies sebagai tempatnya. Sebenarnya gak tau juga kenapa pilihnya harvies, mungkin karena udah nyaman aja sama tempat dan kopinya kali ya. Selama 3 jam duduk disitu lumayan banyak juga kami ngomong-ngomong sekaligus random juga. Ya dung, kalau gak random berarti itu presentasi.

Salah seorang kawan kami gak ikut karena maknya gak kasih izin. So, aku dan mai fren antar oleh-oleh dari mai fren bireun ke rumahnya. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat juga. Nah, akibat perjalanan tidak terlalu dekat kami ini, aku bablas semua. Tell all of my deep story to her. Nyesal aku. Maksudnya, aku menyesali diri yang kalau udah jumpa pertanyaan itu dan teman dekat bisa uncontrol banget. Alamiahnya, aku bukan seorang yang bakal tell my story ke anyone, tapi ntah kenapa kalau jumpa sama kawan dekat, dipancing sikit aja bisa keteteran semuanya.

Sampai ke rumah, aku jadi kepikiran. Kurang nyaman. Kepalaku mulai overthinking, mikirin hal yang aneh-aneh.

“Gimana kalo dia ceritain ke siapa-siapa?”

“Gimana kalo begini?”

“Gimana kalo begitu?”

yah, isi kepala mulai gak bisa dikontrol. other side, aku yakin juga temanku gak bakalan bocor, dia tipe yang keep secret. Nah, menurutku, gak usah takut orang itu bocor atau gak, yang penting cerita aja dulu. release stress dulu, nanti  baru deng mikir lagi.

 

Monday, August 10, 2020

Bapak dan anaknya

Salah satu sore di bulan kemarin aku jalan bareng teman dekatku, seperti biasa, kami keliling kota Banda Aceh, lihat apa yang bisa kami lihat dan mengomentari apa yang bisa kami komentari. Awalnya kami mau jogging di lapangan blang padang, udah jogging sih -gak jogging cuma power walking aja sambil cerita apa aja yang udah kami lewati beberapa hari ke belakang, kan lumayan juga tu buat lepasin penat ditengah hari-hari gak kuliah.

Setelah dari lapangan blang padang sekitaran jam 6 sore baru kami keluar dari blang padang, mau minum kopi di daerah punge. Memang udah agak telat sih, kan mau magrib jadi jalanannya lumayan ramai dan padat. Berhubung kami pakai motor jadi gak terlalu terasa, kan bisa nyalib-nyalib yang dihadiahi bunyi klakson oleh kendaraan roda empat beratap dan para rombongan becak sesak penumpang.

Di tengah kemacetan itu ada satu becak yang menarik perhatianku dan teman dekatku. Kami berdua yang awalnya asik ngoceh jadi terdiam memerhatikan becak. Sebenarnya becaknya biasa aja, malah sangat-sangat biasa. Becaknya itu becak barang dengan motor yang tinggal kerangka dan aku yakin kalau setangnya bergetar habis-habisan kalau lagi jalan. Becak barang itu gak bawa barang, tapi bawa seorang bapak dan anak yang lagi tidur di pangkuan si bapak.

Waktu itu yang aku ingat, kalau si anak diselimutin pakai kain jarik dan mulut terbuka, mungkin saking nyenyaknya tidur ditengah keributan jalanan. Saat itu aku terpikir,

“Kok bisa ya si anak nyenyak banget tidurnya? apa baru minum obat tidur ya?”

“Seharusnya bukan kehidupan seperti ini yang pantas untuk masa kecilnya.”

Idealis banget gak sih pemikiranku? aku aja ketawa setiap pikiran-pikiran aneh muncul dalam benakku. Aku otomatis membandingkanya dia dengan diriku sendiri. Aku gak bisa bilang masa kecilku indah, tapi jujur saja aku sangat menikmati masa itu dan setiap apa yang kuinginkan, mereka selalu mengusahakan atau jika tidak bisa terpenuhi mereka akan memberikan penjelasan kepadaku. Kalau aku masih tetap keras kepala, ya bakalan di marahin.

Saat melihat keadaan si anak itu, di satu sisi aku sangat bersyukur dengan apa yang kudapat selama ini dan di sisi lainnya, aku merasa buruk karena disaat aku mendapat apa yang kuingin dan kebutuhanku terpenuhi ternyata ada seorang bapak yang berjuang untuk keluarganya dan seorang anak yang terlihat enjoy menikmati hidup di dalam serba ketidakcukupannya.

Setiap melihat grafik kemiskinan di Indonesia, Aceh menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia dan Se-sumatra. Aku selalu menapik kenyataan tingkat kemiskinan itu, karena menurutku ‘Aceh tidak semiskin itu’, karena teman-temanku gak ada yang terlihat ‘tidak punya’, rumah-rumah yang kulewati setiap keluar rumah adalah ‘rumah gedungan’, di kompleks perumahanku juga tidak ada ‘yang tidak ada kerjaan’, dan sumber daya alam di Aceh ini lebih dari ‘cukup’ untuk dijadikan pekerjaan. Itulah pemikiran ‘polos’ku. Kalau mau ketawa, silahkan.

Aku selalu melihat sisi terbaik dari satu hal. Aku yang kurang main, ya percaya begitu saja dengan pemikiranku ‘Aceh tidak semiskin itu’ dengan didukung fakta jika Aceh memiliki dukungan finansial yang lebih dari cukup yaitu dana otonomi khusus. Memang sangat mendukung pemikiranku.

Si anak yang ketiduran di atas becak barang itu membantuku melihat kebalikan ‘sisi terbaik’, aku tidak tahu apakah si anak mendapatkan pendidikan yang mumpuni atau apakah si anak mendapatkan waktu bermain yang cukup dengan teman-teman sekompleks perumahannya atau apakah si anak akan ikut dengan bapaknya bekerja atau ketika sakit, apakah si anak mendapatkan fasilitas yang mumpuni atau tidak. Aku tidak tahu secara detail tentang si anak.

Nyatanya, kita tidak bisa menyalahkan. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah pusat atau pemerintah Aceh. 15 tahun Aceh mencoba bangkit setelah kejadian MoU dan memang ada hasil-hasil yang dapat dilihat dan ada juga yang agak ‘aneh’. Sama halnya pemerintah pusat yang bukan hanya mengurusi satu daerah saja, tapi ada banyak daerah di Indonesia ini ataupun, menyalahkan takdir karena apapun yang terjadi di dunia pasti memiliki alasannya.

Solusi? ya mungkin kita perlu membuat solusi bukan menuntut sebuah solusi, mencoba inovasi untuk memberi dukungan kepada anak-anak yang bukan hanya seperti ‘si anak’, tapi anak-anak yang lain juga.

Oh ya, aku sangat menunggu hal-hal yang membantuku melihat sisi kebalikan dari ‘sisi terbaik’.