Mari kuceritakan apa yang kualami minggu lalu, ini bukanlah cerita menarik macam di novel-novel itu. Ini hanya cerita singkat yang kebetulan terjadi padaku, lalu aku menuliskannya disini sambil menunggu dosenku join zoom meeting.
Hari minggu kemarin itu, aku keluar dengan temanku. Teman sekelas sewaktu SMA, teman yang selalu kena hukuman berdua disuruh lari keliling lapangan, teman yang sama-sama suka makan mie, teman yang suka kemana-mana pakai motor, teman yang ga jelas kemana yang penting jalan aja dulu, teman yang suka coba makanan baru lalu mencret bersama-sama, teman gosip hal yang gak penting, dan teman curhat tanpa penyelesaian yaitu ine. Heh, tapi kalian tahu? sudah keren dia sekarang. Ine, sudah jadi pegawai negeri, sangat bangga rasanya. Awalnya, aku bukan teman dekat dia, dia memiliki teman dekatnya sendiri dan aku juga sama, ntah bagaimana bisa akhirnya kami berteman dekat? God's plan, I think.
Destinasi terakhir kami hari itu adalah membeli buku praktis Tes Potensi Akademik (TPA) di gramedia, lampineung. Kami berdua sambil bercerita diatas motor dan disiram panas matahari, kulit gosong tapi tak ada keluhan karena sibuk bercerita. Kami parkir di depan kedai thai tea tepat disamping pintu keluar, mau tahu kenapa? ya karena biar lebih lambat untuk sampai ke pintu masuknya, bercerita lagi, tak ada habis-habisnya.
Saat kami pulang, tak kusangka bapak jaga parkiran sudah ada dibelakang kami, terkejut rasanya. Bapak ini sudah biasa kulihat tapi itu setahun lalu. Hei, aku sudah jarang nongkrong di kedai Thai tea itu sekarang dan kedainya juga sudah berubah. Bukan kedai yang biasa kujajani layaknya selama 3 tahun belakangnya. Aku ini susah untuk makan atau minum makanan baru, perutku tidak cocok semua tempat. Bisa mencret aku. Lemah sekali bukan?
“Hei, apa kabar?” Sapa bapak itu padaku sambil menggepal tangannya dan mengarahkan ke arahku. Jujur saja, aku bingung bagaimana meresponnya. Aku ini tidak suka bersentuhan dengan orang lain. Akhirnya, aku juga mengarahkan tinjuku ke kepalan tangan bapak itu.
“Sangat baik.” Sambil cengengesan dan mengangguk macam boneka Dashboard mobil itu.
“Sekarang kerja?” Tanyanya. Oh Tuhan, stres aku mendengar pertanyaan ini.
“Masih kuliah pak. Koas pak.” Aku menjawab dengan suara terjepit sehingga terdengar seperti cicit tikus.
“Tahun depan selesai?” Lanjutnya. Aamiin, ucapku dalam hati.
“Insya Allah Pak.” Aku mengangguk sambil menaruh koin ke tangannya.
“Saya duluan pak.” Akhirku sambil menepuk ine untuk meng-gas motor sesegera mungkin. Mantap ine, dia langsung mengerti.
Aku cukup terkejut mengetahui jika bapak itu masih mengenalku. Ahh, apa yang sudah kulakukan sehingga bapak itu mengingatku. Aku ini kadang cengengesan tidak jelas, banyak omong juga iya kadang, atau bisa juga sok asik gak jelas. Alahai Ramlah, sudah ngapain kamu? Apakah ini yang disebut menuai?
Sepanjang perjalanan pulang, ine asik memuji bapak ini karena ramah menyapaku. Alamak ine ini, tidak tahu saja kalau kawannya ini mungkin saja sudah melakukan hal aneh sehingga bapak itu dapat mengingat dengan baik aku ini.
No comments:
Post a Comment