Monday, August 17, 2026

Inilah

 

pinterest cc @seydaozkn

Aku menganalisis apa yang terjadi. Mengapa bisa terjadi berulang. Ini berawal dari mana dan akan berujung ke mana.


Aku akan membuat analogi sesuai bidangku. Ketika pasien datang ke ruanganku, hal yang pertama aku lakukan adalah anamnesis (bertanya beberapa pertanyaan kepada pasien dan pasien menjawab) lalu melakukan pemeriksaan klinis (bisa jadi ditunjang dengan pemeriksaan penunjang). Setelah menganalisis semua hasilnya, barulah aku mendiagnosis penyakit dan menyusun rencana perawatan kepada penyakit pasien tersebut.


Pertanyaan mendasar. Nah, apa ada penyakit yg datang secara tiba-tiba?


Jawabanku untuk saat ini, tidak. Meski di buku teks ada beberapa penyakit yang dituliskan “etiology is unknown”. Penyakit itu tidak datang tiba tiba. Semuanya ada penyebabnya, bisa jadi belum diketahui ataupun belum selesai diteliti. 


Lalu, selain ada etiologi (penyebab penyakit), maka berlanjut ke patogenesis. Patogenesis ini adalah proses atau tahapan perkembangan penyakit, mulai dari pertama kali tubuh berjumpa dengan agen penyebab hingga munculnya keluhan pasien, tampilan klinis atau kesembuhan. Setelah tampak, maka pasien ini sudah duduk didepanku.

—-

Aku menemukan kalimat yang tertahan di kepalaku, yaitu “some people let their ego speak louder than their understanding.” Beberapa orang membiarkan egonya lebih besar dari pemahamannya.


Manusia memang sepaket dengan ego, jika ego dihilangkan maka manusia menjadi tidak utuh. Namun pertanyaan pentingnya, apakah ego terus menerus di menangkan?


Jawabannya tidak. Ego adalah penyebab. Untuk menyembuhkan hubungan yang retak, kita harus menghilangkan penyebabnya. Tentu bukan dengan konsumsi vitamin atau penghilang nyeri, tetapi dengan mengendalikan ego.


Lalu, bagaimana cara menyusun rencana perawatan? 


Menghilangkan penyebab. Anti nyeri? Vitamin? Bukan. Ya menghilangkan penyebab. Jika penyebabnya adalah bakteri, maka pasien diberikan antibiotik utk menghilangkan penyebab. Lalu, kenapa bisa ada tindakan pembedahan? Ya sama, untuk menghilangkan penyebab. Jika penyebabnya adalah ego, maka harus dikendalikan.


Lalu, bagaimana jika tidak dihilangkan penyebab? Ya, akan relapse, kambuh, siklus berulang. Jadi, melelahkan, karena tidak pernah sembuh-sembuh.

——

Ada aksi maka ada reaksi. Itu memang sudah hukumnya. Menganggap aksi mu sebagai bentuk permainan? Sambil menuntut dia tidak boleh bereaksi. Itulah bentuk ego.


Lalu setelah bereaksi, kamu akan kembali menyerangnya? kamu akan mempermasalahkannya? itu ego. 


Pertanyaan yang harusnya ditanyakan pada diri, adalah

  1. Apa aku boleh melakukan ini dan itu, tapi dia tidak boleh bereaksi?
  2. Ketika dia bereaksi, apa aku etis menyerangnya kembali dan tidak mendengarkannya?
  3. Jika hal sama seperti yang kulakukan kemudian dilakukan untukku, bagaimana reaksiku?

Atas aksi yang kamu lakukan, selalu akan ada reaksi. Bisa jadi reaksinya berupa senang, sedih, ataupun marah dan mempertanyakan. Kamu yang sudah memulai, harusnya menerima dan sedikit menurunkan ego untuk meminta maaf jika tidak nyaman.


 Mau reaksinya adalah diam dan tidak peduli? Bisa jadi, tapi mau sampai kapan berdiam dibalik kata baik baik saja tapi ternyata tidak baik?


Jika tidak melakukan ini, siklus terus berulang : aksi > reaksi > serangan balik > aksi lagi

——

Kemudian, ada batas tipis. Bercanda itu kapan bisa dikatakan bercanda? 

Ketika kedua belah pihak menerima itu bercanda. Jika ada satu pihak keberatan, tidak nyaman, dan diminta untuk jangan diulang, maka itu bukan lagi bercanda. Tetapi, sudah bentuk tidak menghargai dan tidak menghormati.

—-

Aku rasa salah satu hal yang menyebabkan hubungan retak adalah ego yang tidak dikendalikan dengan baik. Kamu dan dia saling memilih untuk berpasangan, harusnya kamu dan dia juga memilih mengendalikan ego.


Ego itu penyebabnya. Ego yang tidak dikendalikan. Patogenesis nya satu pihak selalu memenangkan dirinya dan pihak lain disisi mengalah. Satu pihak yang menyerang masalahnya, pihak lain menyerang personal nya. Satu pihak ingin dihargai, pihak lain ingin dimaklumi. Satu pihak ingin berjalan berdampingan, pihak lain ingin didepan. Satu pihak menerima, pihak lain memberi. Sampai akhirnya, menjadi penyakit, yaitu hubungan retak.

—-

Berapa kalanya seseorang boleh berbahasa tidak baik kepada pasangannya?


Apa elok kamu berbahasa seperti kepada temanmu terhadap pasanganmu? Dia punya perasaan. Sekali dua kali masih bisa dimaklumi, ketiga kali itu rasa tidak dihargai. 


Bukankah kamu dan dia punya komitmen apa yang boleh dan tidak? Kenapa kamu menuntut konsisten disaat kamupun tidak melakukan itu. Padahal rasa aman adalah poin untuk menjalani hubungan.


Rasa aman terbangun dari konsistensi, kepedulian, dan komitmen. Bukan dari ingin memenangkan ego,

—-

Inilah mungkin ya setiap doa untuk pasangan baru adalah saling. Saling memahami, saling memaklumi, saling menghargai, saling menghormati, saling berkomunikasi, saling berkomitmen, dan saling menjaga tutur kata. Karena tanpa ‘saling’, rasa aman dan rasa bahagia akan menjauh, bahkan menghilang.


Tentu, saling ini tidak timbul secara tiba-tiba, tapi dibangun pelan pelan, dengan kesadaran dan komitmen dari dua pihak.

——


Ketika satu pihak bereaksi, lalu kamu melihat dia yang pemarah, dia yang menuntut kabar, dia yang menyerah? Tapi, apa pernah kamu selami aksi apa yang sudah kamu lakukan sehingga dia menjadi begitu?


Harusnya kamu melihat dia bukan sosok untuk dikalahkan dan dibawahkan, tapi sosok yang harusnya di ayomi dan diberikan pengertian. 


Dia bukan temanmu ataupun teman kerjamu. Tapi, seseorang yang secara sadar kamu pilih untuk berjalan disampingmu. Bukankah awalnya saling memilih? Jadi kenapa jadi begini? Bukankah tidak pantas tidak kamu anggap serius perasaannya?


Dia tidak mungkin menggapaimu terlebih dahulu terus menerus, karena dia juga punya harga diri. Memang sangat menyenangkan terus menerus digapai. Tapi itu membuatnya terus menerus babak belur secara emosional.


Berhenti membuat ego memenangkan pertandingan. Kopi hangat yang mendingin tidak enak. Es kopi yang esnya menjadi juga tidak enak. Harusnya saling kan ya?



No comments:

Post a Comment