Friday, November 26, 2021

Marah














 I really hate my self when I'm angry, I can be so fucking rude.

Setelah kuingat-ingat, aku udah lama gak marah, selama ini jika ada sesuatu yang membuatku marah, aku akan pura-pura tidak peduli atau pergi keluar rumah, bisa jadi untuk main atau lainnya. Intinya aku tidak dirumah. Sekian lama itu akhirnya tadi pagi aku marah, aku sangat kasar jika marah. Kata-kata yang kukeluarkan akan menyakiti siapapun dan aku akan bertindak abusif. You know? mengendalikan diri saat marah itu sangat susah.

Seharusnya mereka mengerti dan paham, kenapa aku tidak pernah menjawab atau membantah atau bertindak-tindak anteng-anteng aja setiap hari, tapi faktanya mereka tidak pernah mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Aku tidak suka barang bekasku pakai dipakai orang lain. Menurutku, harus ada batas diantara itu semua. Contohnya gelas, aku tidak suka orang lain minum dari gelas bekasku minum kecuali sudah dicuci. Yaps, jika sudah dicuci, its fine silakan pakai. Lalu, setelah dipakai, taruh di tempat semula.

I think not all people will be understand it. Its make me tired. Sebelum marah, aku berusaha menekan emosiku agar tidak meledak. Aku diam dan diam. Jika ada seorang saja yang berusaha mengangguku, nah disitu awal mula aku akan marah, lalu akan berlanjut seharian. Aku akan mengungkit semua kesalahan. Kesalahan kecil akan tampak. Jika dibilang aku detail, maka bisa jadi. Jujur saja ini sangat melelahkan.

Setelah marah, kepalaku akan mengulang kembali kejadian tadi-tadi seperti kaset rusak. Aku tidak bisa minta maaf, karena marah tadi itu juga sebagai peringatan untuk mereka, aku bukan orang yang mudah marah jadi jangan pernah menginjakku, jika berani menginjakku maka aku tidak segan-segan akan lebih kasar padamu. Aku benci tertindas, jadi aku akan berusaha menaikkan diriku apapun yang terjadi. Aku orang cukup keras jika aku mau. Aku tidak berharap orang akan mengerti diriku, tetapi aku sangat berharap seseorang dapat menghargai orang lainnya.

Monday, November 1, 2021

People


Beberapa orang mendapatkan sesuatu hanya dengan merubah mimik muka untuk merengek,

beberapa yang lain memutar otak untuk menjawab,

beberapa yang lain menghalau malam untuk berdoa,

beberapa yang lain melawan pikiran nakal,

beginilah cara beberapa orang mendapatkan sesuatu

Alangkah indahnya bagi mereka yang berusaha sekuat hati dan tenaga

Thursday, September 30, 2021

Semua akan baik-baik saja


Aku ketemu video bagus dari tik tok, video berisi speech dari Dalia Mogahed, aku tidak tau dia siapa dan aku juga tidak mencari tentangnya. Video tentang kisah Nabi Nuh dan kapalnya. Jujur saja, aku sudah mendengar cerita ini dari lama dan terus berulang dimana-mana, tetapi aku tidak tahu makna di balik cerita ini. Dalia menyampaikan dengan baik maksudnya, kapal Nabi Nuh itu adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Akal dan pikiran rasanya ingin meremehkan jika kapalnya tidak mungkin tidak hancur di tengah banjir besar itu, tetapi dengan kuasa Tuhan, semuanya menjadi mungkin. Dalia meminta kita untuk memiliki kapal masing-masing, agar dalam keadaan terombang-ambing pun tidak hancur.

Aku merasa mendapatkan pencerahan dari speech itu. Sederhana tapi cukup mengesankan. Apa mungkin ini menjadi mengesankan karena saat itu aku belum memiliki kapal?

Seharusnya besok adalah hari ujian bagian untukku. Tuhan tidak mengizinkan, jadinya aku tidak bisa ujian. Bukan hanya aku, tapi teman segelombangku juga. Dari tadi siang aku berusaha menyelami perasaanku, apakah aku marah, sedih atau kecewa? Aku tidak menemukan apa-apa. Aku tidak marah, sedih, atau kecewa. Biasa-biasa saja.

"Tuhan tidak mengizinkanku."

"Tuhan memiliki rencana yang lebih worth it untukku."

Inilah yang kupikirkan dan terulang-ulang dalam pikiranku. Aku tahu diriku dalam keadaan tidak sekarang ini. Jelas selangkah tertinggal dari teman-temanku yang lain. Aku tidak berhak marah pada keadaan, karena jika aku marah pun keadaan tidak akan berubah. Jika aku melakukan cara licik, maka orang-orang akan memberi label 'opurtunis' untukku. Aku tahu ini serba salah. Aku terperangkap dalam keadaan yang tidak menguntungkan. 

Mau bagaimanapun, aku sudah menaiki kapal. Kapal yang akan membuatku tetap aman dan tenang di tengah ombak yang semaput, aku sudah berlindung dibelakang dinding kapal, jadi semuanya pasti baik-baik saja.

Monday, September 27, 2021

Happily After


 Aku suka film produksi disney. Maknanya ada, jadi aku tidak menonton secara sia-sia menurutku. Ada satu hal yang membuatku berpikir. Mengapa mereka membuat akhir ceritanya 'Happily After'?

Saat kuliah S1 dulu, aku beberapa kali menjadi tim paduan suara untuk acara pelantikan sumpah dokter gigi. Percayalah, aku ini tidak bisa menyanyi, mungkin takdir yang membawaku ke dalam tim itu. Rangkaian acara yang paling kutunggu selain pengambilan sumpah adalah Speech dari Dokter gigi baru. 

“Kami bersyukur atas pencapaian hingga hari ini. Terimakasih kepada orang tua, guru-guru, teman-teman, dan penghargaan terbesar kami untuk pasien yang bersedia membantu kami. Kami percaya ini bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya.”

Isi speechnya selalu formatnya begini, dengan variasi kata-kata dari dokter gigi baru yang terpilih. Aku jadi berpikir akan kata “awal dari segalanya”, aku percaya ini bukan hanya pemanis tetapi memang kenyataannya seperti ini.

Setiap kita telah menyelesaikan atau mendapatkan sesuatu, kata “happily after” kurang cocok digunakan. Setelah menyelesaikan sesuatu, maka otomotis kita akan memulai awal yang baru lagi, dan berusaha lagi untuk menyelesaikan. Bukankah putaran stres, merana, dan crisis akan terulang? Lalu dimana letak “happily after” yang ditawarkan film Disney tersebut saat memulai awal ini? Apakah cinderella setelah hidup bersama dengan pangeran akan selalu bahagia? Apakah mereka tidak akan bertengkar hanya gara-gara secangkir kopi di pagi hari?

Apakah sebenarnya kata "bahagia selamanya" adalah kata ganti untuk "terbiasa"? Kita memang stres menghadapi sesuatu yang baru, tapi disamping itu kita juga sudah terbiasa menghadapi stres dan sudah tahu juga melepaskannya. 

Ketika yudisium untuk gelar sarjana tahun lalu, aku tidak menangis ataupun tidak tertawa tetapi lega. Lega akhirnya aku bisa menyelesaikan skripsi dan lulus semua mata kuliah tepat waktu, saat itu aku duduk di baris pertama. Bagaimana rasanya? aku merasa stres. Stres karena aku akan sangat mudah terlihat. Pikiranku saat itu sudah melayang ke kehidupan klinik yang susah berdasarkan spoiler senior-senior. Aku gugup, stress, tapi aku yakin akan terbiasa. Kurasa begitulah arti "happily after".

Menurutku, happily after  itu bukan tentang tidak pernah konflik saat dalam hubungan, bukan tentang tidak mengeluh saat banyak tugas, bukan tentang down saat dosen menegur, bukan tentang tidak kembali saat tugas tidak di accept oleh dosen, bukan tentang sedih saat teman meninggalkan, bukan tentang kepikiran saat dosen tidak membalas pesan, atau bukan tentang mereka menilaimu tetapi baru berjumpa dalam hitungan jari. Happily after itu tentang tidak menyerah. Hidup ini seperti jalan yang sedang dibangun. Awalnya ditaburi kerikil, setelahnya diberi aspal agar licin. Happily after juga tentang terbiasa, terbiasa tidak marah pada keadaan.

Thursday, September 23, 2021

Penolakan


Tiga hari yang lalu aku beranikan diriku ke rumah calon pasienku, meminta kepastian apakah orang tuanya mengizinkan atau tidak anaknya kujadikan pasien. Jujur saja, aku sangat mengharapkan mereka mengizinkan dan aku akan berusaha menyelesaikan kasusnya secepat mungkin. Aku menunggu kepastiannya sudah 1 bulan karena mereka sekeluarga ke luar kota. 

"Kami belum berencana untuk merawat anak kami. Ini saja sekolah dan ngajinya masih keteteran dan kami berdua (ayah dan ibunya) lagi sibuk-sibuknya." 

Mendengar ini membuat moodku drastis turun dan aku sedih. Ini bukan penolakan pertamaku, tapi ini membekas. Perasaanku seperti itu karena aku menaruh harapan yang sangat besar pada calon pasien yang satu ini, jadi ketika kenyataannya 'tidak dapat' aku menjadi sedih, sedangkan penolakan yang dulu-dulu tidak terlalu kupikirkan karena kurasa, aku masih memiliki pilihan lain. Calon pasien ini seperti ujung tombak untukku, ketika tidak jadi maka aku tenggelam.

Sebenarnya penolakan di awal begini lebih baik, karena aku tidak perlu pusing ke depannya. Jika mereka tidak mengatakan penolakan secara tersurat seperti itu, maka aku akan menganggap pasien dan orang tua pasien kooperatif. Lalu, aku akan meng-acc pasien ke dokter pembimbingku. Setelah di approve barulah aku pusing karena harapan yang lebih besar dari sekarang. Nanti di tengah perjalanan perawatan biasanya akan ketahuan pasien kooperatif atau tidak dan akan lebih memusingkan untukku.

Penolakan akan pedih di awal dan manis diakhir. Aku pastinya akan menghadapi 5 stages of grief, karena begitulah alamiahnya. Bisa jadi karena penolakan ini, aku akan mendapatkan yang 'lebih' lagi di kemudian hari.

Saturday, September 18, 2021

Kata Kasar



Komunikasi itu kebutuhan setiap manusia dan kita sudah memulainya sejak lahir. Komunikasi kita pertama adalah menangis, ya kita akan menangis saat baru lahir dan itu adalah bentuk komunikasi untuk memberitahu jika kita 'hidup', lalu para orang tua akan tersenyum ketika mendengar tangisan pertama bayi mereka. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kita akan mengadopsi bahasa yang kita dengarkan dari sekitar, di usia 9-12 bulan kita sudah mulai mengeluarkan suara-suara dan sekarang, kita sudah sangat lancar berbicara. Ya, salah satu cara kita berkomunikasi saat dewasa kini adalah dengan berbicara. 

Bicara itu gak boleh dengan sembarangan orang menurutku, karena tidak semua orang tahu cara berbicara dengan baik. Aku tidak mengajak semua orang berbicara dan cenderung ingin mengakhiri percakapan secepat mungkin jika ada orang yang tidak kusenangi mengajakku bicara. Aku tidak suka diriku terperangkap dalam percakapan yang menurutku tidak seharusnya kuketahui. Aku juga takut terluka akibat percakapan tersebut.

Lidah itu lebih runcing dan tajam dari pisau, jadi saat menyayatnya tidak terasa tetapi pedihnya minta ampun. Selama ini aku cukup banyak memiliki kenangan tentang berbicara kasar. Mereka mengomentari cara bicaraku, cara berpakaianku, ekspresiku, merendahkanku tanpa mereka sadari, dan berusaha ikut campur dalam urusanku. Mereka bukanlah seseorang yang mengenalku dengan baik, tetapi berani memberanikan komentar. Menurutku, terlalu banyak komentar dan ikut campur dalam hidup seseorang bukanlah pilihan yang bijak.

"Ini dimatikan ya dek alatnya." Aku baru menghidupkan alatnya, dia baru datang dan mengomentari pekerjaanku tanpa melihat dengan seksama.

"Oh kamu mau pake ya, kakak pikir mau apa, kakak duluan ya." Aku menghidupkan alatnya dan memberesi alatnya, tanpa sepatah kata dia langsung menggunakan.

"Beli tempat khusus ya, buat bahannya." lalu tersenyum dan tertawa bagaikan hal yang kulakukan adalah hal aneh.

"ini kursiku." katanya dengan nada-nada menye-menye. Heh, tadi saat kutanya ini kursi kosong atau gak, tidak ada siapapun yang menjawab. Lalu, dia datang ntah darimana, mengaku ini miliknya dengan nada memojokkanku.

"Kamu tahukan kawan kita itu, jadi yaaa......" ini respon saat aku berusaha membenarkan ucapannya, dimana jika ia teruskan akan menjadi bumerang untuknya dan usahaku sia-sia saja menurutku.

"Kamu harus perbaiki ekspresimu." apakah aku harus tertawa saat perasaanku tidak enak? apakah aku harus membohongi diriku sendiri?

Susunan kata-kata diatas cukup lembut bukan? tapi ini merupakan kata-kata kasar untukku. Cukup untuk membungkam mulutku dan menurunkan energi hingga rasanya aku malas merespon semua perkataan mereka. Aku tidak pernah menjawab saat mendapat kata-kata itu dan ekspresiku akan sedatar dinding, karena aku takut jika aku jawab maka mereka akan lebih terluka dariku. Bisa saja saat itu aku tertawa kering, tetapi aku adalah orang yang mengganggap serius segala sesuatu yang berkaitan dengan jiwa atau fisikku. 

Omong-omong, aku menemukan penjelasan yang cukup baik mengenai kata-kata kasar dari buku yang baru kubeli. Bukunya berjudul 'Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang' karya Jeong Moon Jeong. Penulis bercerita tentang ketidakstabilan emosinya saat atasannya memarahinya atau memujinya, lalu ia membaca tentang seorang anak yang meminta nasihat pada Biksu Pomnyun. Sang Biksu menyamakan kata-kata kasar atau kata-kata jahat dengan sampah, jadi sampah harusnya dibuang ke tempat sampah, saat kita sedang berpikiran dengan kata-kata tersebut berarti secara tidak sengaja kita sedang menyimpan sampahnya, maka pilihan yang bijak adalah membuang 'sampah' yang diberikan oleh orang-orang yang tidak mengenal kita ke tempat sampah.

Aku suka dengan pemikiran penulis. Aku ingin berusaha menyingkirkan koleksi 'sampah' yang telah kutumpuk beberapa saat ini, pastinya aku tidak bisa membuangnya sekaligus. Segala butuh waktu, kan? aku akan berusaha sebaik mungkin. Saat aku sudah menyingkirkannya, maka secara otomatis aku tidak perlu kepikiran dengan kelakuan mereka terhadapku.

Komunikasi yang harusnya berjalan dua arah dan saling menghargai, bisa saja berjalan satu arah dan melukai siapapun. Memilih lawan bicara dan abaikan saja perkataan atau kritikan yang tidak membangun ialah pilihan yang baik. Kritik tajam dari seseorang yang mengenalmu lebih baik dari kritik lembut dari orang yang merasa tahu tentang dirimu setelah sekilas melihatmu.

Sunday, September 12, 2021

[Poetry] Enak

 



Aku semakin yakin,
Apa yang terjadi di dunia ini butuh usaha
Telur saja perlu langkah agar bisa dimakan
Mulai dari ambil pisau untuk pecahin, 
Taruh di mangkok, aduk, lalu tuang ke wajan panas
Hal yang sesederhana itu aja butuh usaha

'Hidup kamu enak banget!'
Sekarang aku paham, kenapa kalau orang sukses dengar ini,
Pasti ada jeda dulu, tidak langsung menjawab
Karena,

Karena mereka sedang mengulas kejadian masa lalu
Hingga mereka menjadi sukses
Dan itu, tidak enak, mereka usaha, susah payah
Jungkir balik agar bisa 'sukses'

Tidak ada istilah 'hidup semudah membalikkan telapak tangan'
Balik telapak tangan juga butuh usaha
Kita harus gerakin otot, baru bisa balik
Usaha merefleksikan kesuksesan

Saturday, August 21, 2021

Wanna be
















Tadi malam, aku mengalami kejadian yang agak mengejutkan. Awalnya mau cuek aja, tapi aku gak bisa, jadinya aku malah terlibat. Kejadian ini udah aku ceritain ke teman-temanku, but still ingin aku tulis disini.

Seorang teman meneleponku, katanya ia diabaikan oleh temannya yang lain. Aku tidak mau membantu, tapi aku teringat jika posisiku di dia, akhirnya aku hanya sedikit membantu. Setelah mendengar alasan dia diabaikan, aku agak kesal pada diriku.

"Dia juga temanku. Kenapa ya aku gak bilang dari awal kalau akan begini jadinya?"

"Kenapa dengan teman-temannya itu, apa mereka selalu hidup dalam keberuntungan sehingga tega memperlakukannya begitu?"

"Aku hanya mendengar point of view-nya, aku butuh point of view teman-temannya baru bisa mengambil keputusan, tapi sebenarnya aku gak mau mendengar point of view mereka, aku merasa diriku tahu kelakuan mereka."

"Shit. kenapa aku harus terlibat ditengah-tengah mereka."

"Kenapa  dia dan his friends ini begini..."

Banyak pikiran lain yang lalu-lalang dikepalaku malam itu. Anehnya, satupun tidak kukatakan padanya, aku terlena mengangkat teleponnya dan berusaha menyelesaikan masalah untuknya.

"Dia bukan teman dekatku, untuk apa aku repot?"

Pemikiran sepicik ini pun sempat terlintas dibenakku, but syukurnya itu terhapuskan dengan segera. I know him, dia orang baik dan mungkin sering dipergunakan oleh orang-orang bad etiquette. Rasanya aku ingin menjelaskan padanya jika hidup ini gak mudah, pertemanan harus diseleksi dengan bijak, idiom sering digunakan saat menyindir, pura-pura bodoh kadang perlu, dan berusahalah untuk tidak mudah terpengaruh.

Aku tidak menyuruhnya untuk berteman denganku atau bergabung dengan circle-ku, tapi jika dia ingin bercerita dia boleh menghubungiku, mungkin aku akan menyisihkan waktuku sedikit untuk mendengar ceritanya. Jadi, aku sangat berharap dia menemukan lingkungan yang sehat dan tidak perlu terburu-buru untuk mendapatkan, karena segalanya butuh waktu.


Saturday, January 30, 2021

Ruang Sendiri


Oke. Aku mau bahas tentang ruang. Disini yang kumaksud bukan ruangan yang dalam gedung atau dalam rumah itu ya, tapi ruang dalam diri kita sendiri. Pernah ga sih kalian berada di tempat rame, tapi rasanya kalian sendiri? Duduk ngomong-ngomong lagi nongkrong, tapi merasa sepi?

I feel it. Perasaan itu gak setiap hari ada, tapi waktu datang, rasanya agak gimanaa gitu. Perasaan dimana aku gak mau balas chat siapapun, dimana aku gak minat berinteraksi sama siapapun, dimana aku memendam semuanya sendirian, dimana aku sedang mengingat seluruh masa sedihku, dimana untuk pegang handphone aja malas, dan maunya lakuin hal yang aku suka aja tanpa gangguan.

Aku gak meminta orang lain untuk mengerti kalau aku lagi di masa itu, tapi aku akan sangat senang kalau mereka mengerti. Gak lama kok, hanya beberapa hari aja. Aku gak lagi marah sama siapapun, aku hanya butuh ruang sendiri.

Ruang untuk berpikir tentang semuanya. 

Sunday, January 24, 2021

Balada Mahasiswa


 

12.00 pm, 18/01/2021

Sebagai seorang mahasiswa koas tentu banyak tuntutan yang harus kupenuhi. Mulai dari tuntutan dari orang tua, kampus, dan diri sendiri. Kalau dibilang ini rumit, tentu ini rumit.

Setelah menyelesaikan S1 dulu, saat baru-baru masuk Koas, dosen waliku pernah bilang (maaf aku gak menyebutkan namanya), “Nanti kalian bakalan di fase, terhambat Koas itu bukan karena pasiennya ataupun dosennya, tapi karena diri kalian.” Jujur aja, sebelum masuk Koas, aku dapat banyak spoiler dari seniorku. Ternyata spoiler itu lebih ngena waktu udah kita rasain.

Bulan depan, genap setahun aku koas alias setengah perjalanan, tapi requirement yang aku selesain belum setengah. Stress? Tentu. Sedih? Tentu. Mau gila? Tentu. Disamping itu semua, yang membuatku tetap waras cuma dengan satu cara, yaitu ingat kalau “Allah udah buat jalan masing-masing untuk hambanya.”

“Diri kalian.” Ini yang mau kubahas berdasarkan apa yang kurasain selama 1 tahun perjalanan ini. Pertama masuk koas awal bulan maret 2020, baru 2 minggu kerja di klinik abistu ada wabah covid-19. Pada awal oktober kembali masuk klinik, setelah para petinggi kampus menemukan solusi bagaimana mahasiswa Koas dapat berpraktik meskipun dalam keadaan wabah gini. Dari maret-oktober, lebih kurang ada 6 bulan kosong yang ku isi dengan mandi, makan, nonton, tidur, dan baca bacaan yang selama 4 tahun di S1 belum kubaca.

Selama 6 bulan itu, ada banyak hal yang kusayangkan, seperti “kenapa aku ga coba lebih banyak baca textbook tentang dental atau riset jurnal terbaru?”, “kenapa aku harus tidur lebih dari 8 jam sehari?”, “kenapa aku harus menikmati libur gak sengaja itu?”, “kenapa aku harus menyisihkan waktu untuk nonton drama?”. Seharusnya aku lebih banyak menyisihkan waktu untuk belajar, biar waktu ditanya dosen atau dalam diskusi, aku bisa jawab dan ngerti kemana harusnya arah diskusi. Bukannya kayak sekarang, plangak plongok kek orang bingung alias gak ngerti. Dasar aku, suka nyesal setelah kulewati.

Setelah akhirnya masuk koas lagi, ada hal-hal yang aku gak suka, contohnya aku memaksakan diriku untuk tetap positive thinking ketika aku gagal di satu tahap sedangkan temanku mulus aja. Ingin rasanya mengorek kesalahan si teman, mencari ketidaksempurnaannya, atau menginginkan biar si teman gagal juga. Tapi, aku gak bisa kayak gitu. Menjaga diriku tetap positive thinking agar aku tetap waras adalah jalan ninjaku.

Aku juga penganut prinsip, “setiap ada kegagalan, pasti didepan nanti pasti ada kesuksesan.” Karena itulah aku gak pernah mau mundur meskipun gagal. Waktu di marahi karena salah atau gak bisa, aku yakin setiap anak Koas di dunia ini punya jurus ampuh, begitu juga aku, “baik dokter, terimakasih dokter” atau “mohon maaf dokter, akan saya pelajari lagi dokter”. Bukannya terlalu semangat atau apa, tapi gimana ya bilangnya. Aku juga perlu selesain sekolah, kalau aku setiap dimarahi jadi down, mau berapa tahun aku sekolah ini. Semangat adalah jalan ninja.

Disamping itu semua, setiap abis dimarahi atau gak bisa jawab waktu diskusi, aku juga sering tanya sama diri sendiri, “apa betul ini jalanku?”, “apa dulu impianku gini?”, “apa ini jawaban atas doaku selama ini?”, “apa aku pantas untuk cita-cita ini?”, dan “apakah aku pantas untuk gelar ini dengan skill dan ilmu segini?”, setiap muncul pertanyaan yang kayak gitu, pasti bawaannya tidur. Soalnya gak nemu jawabannya dan sejauh-jauhnya pelarianku adalah tidur.


00.57 am, 24/01/2021

Apa setelah itu aku dendam? Setelah aku gali lebih jauh ke dalam diriku. Gak sih. Soalnya kayak kubilang tadi, Allah udah buat jalan masing-masing untuk hambanya. Dimarahi dosen? Heiii, ingat gak sih waktu SD dulu, aku yakin guru kita pernah bilang, “ditegur atau dimarahi itu tanda sayang.”, jadi aku anggap ditegur atau dimarahi dosen adalah tanda sayang mereka padaku. Mereka menegurku ketika aku tidak cukup ilmu untuk menjawab pertanyaan mereka, mereka memarahiku karena aku tidak cukup semangat untuk menghadapi pasienku. Mereka sedang membentukku menjadi pribadi yang bukan hanya kuat secara keilmuan tetapi juga mental.

Coba bayangkan, kalau aku gak pernah dibentak atau dimarahi, tiba nanti jumpa pasien dan pasien membentakku, pasti gak kayak sekarang (yang akunya biasa aja menanggapinya, gak terlalu sedih dan gak terlalu bawa perasaan) dan pasti bakalan cengeng.

Jalan temanku yang mulus? Setelah merenung lebih jauh, itu sama sekali gak masalah. Hidup ini kayak roda oke? Pernah di atas dan di bawah. Aku juga pernah di keadaan ‘mulus’ dan temanku pernah juga di keadaan ‘kerikil’. Jadi, mari kita menikmati yang sedang kita hadapi, meskipun sudah, tapi apa salahnya mencoba kan ya?

Mencoba ikhlas. Aku akan gunain kata ‘mencoba’ hingga aku benar-benar ikhlas. You know? Ikhlas itu susah loh dalam praktiknya, meskipun secara teori mudah auntuk dipaparkan. Tapi, kewajiban kita adalah ‘do our best’.

Oh ya, untuk sembuh itu proses. Bisa aja aku pura-pura untuk menerima dihari itu, tapi bisa jadi aku mendendam ke depannya. Penerimaan juga butuh proses, sama seperti sembuh.

 

Tuesday, December 29, 2020

My Korean-Movie Watchlist in 2020

 


Berhubung 2020 lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di kampus atau rumah sakit, selain belajar dan buat catatan ya kegiatanku nonton dan nonton. Sebenarnya aku lebih suka nonton drama dibandingkan movie, ini aja aku lagi nonton k-drama 'stranger 2', tapi karena ada teman dekatku yang lagi suka nonton movie eh jadinya aku ikutan juga. 

Beberapa hari lagi udah tahun baru, gak terasa ya kita udah menghabiskan 2020 dengan bersantai di rumah. Okey, maka disini aku mau rekomendasikan movie-movie yang udah kutonton, mungkin kalian suka dan nanti bisa nonton untuk mengisi liburan akhir tahun ini.

1. Pawn

Movie ini temanya keluarga latar waktu di tahun 1993, ceritanya 2 orang rentenir yang mau tagih utang sama seorang ibu yang punya seorang anak perempuan umur 10 tahun. Si Ibu udah beberapa bulan nunggak utangnya, dia masih gak bisa bayar, ditambah suaminya yang udah meninggal (tapi ini plot twist di akhir), akhirnya 2 rentenir ini jadiin anak perempuannya jaminan. Mereka bakalan balikin si anak kalau si ibu bayar utang keesokan hari ini. Tetapi, si Ibu gak pernah datang karena dideportasi ke china gara-gara ibunya  adalah imigran ilegal. Setelah banyak kejadian, akhirnya 2 orang rentenir ini memutuskan untuk merawat si anak hingga dewasa. Aku bisa kasih skornya 9/10.

2. Northern Limit Line


Movie ini mengusung tema militer, alias movie perang. Ini diangkat dari kisah nyata. Latar waktunya tahun 2002. Dimulai dari anggota angkatan laut baru, petugas medis, yang dipindahkan ke kapal perang Angkatan laut korsel. Mereka melakukan patroli di sepanjang perbatasan laut antara korsel dan korut. Lalu, di suatu malam kedatangan perahu milik nelayan korut ke laut milik korsel. Setelahnya, berlangsunglah kejadian yang tidak biasa. Skornya aku kasih 9/10.

3. Innocence


Movie ini diperankan oleh Shin Hye Sun selaku pengacara handal. Ayahnya meninggal dan keluarga mereka mengadakan acara berkabung. Lalu, ada beberapa petinggi daerah tersebut datang dan mereka meminum arak lalu mereka keracunan. Ada yang meninggal dan ada yang masa kritis di Rumah sakit. Ibunya dituduh sebagai terdakwa dan Shin Hye Sun pulang kampung untuk mengeluarkan ibunya dari bui, meskipun ibunya tidak mengingatnya sedikitpun karena mengidap dementia. Sedikit demi sedikit Shin Hye Sun menguak kasus dibantu oleh teman sekampungnya dulu yang berprofesi sebagai polisi dan juga, pamannya. Seiring terbukanya kasus tersebut, seiring terkuaknya konspirasi di daerah tersebut dan terkuak juga Shin Hye Sun sendiri. Skornya aku kasih 9/10.

4. The Gangster, The Cops, The Devil


Movie ini bercerita tentang kerjasama antara bos mafia dan detektif  dalam menangkap pembunuh berantai. Cerita dimulai dari polisi dengan menangani beberapa pembunuhan dengan tusukan lebih dari 5 disekujur tubuh korban yang ditemukan dalam mobil, dengan khas lecet tabrak di bamper belakang mobil, dan ada seorang detektif menduga bahwa itu adalah pembunuhan berantai meskipun disangkal oleh ketuanya. Hingga tibalah satu malam saat bos mafia nyetir sendiri, lalu tiba-tiba ada mobil ditabrak dari belakang. Lalu keluar orang yang pakai sweater hitam dan hoodie juga dipasang bawa pisau, lalu pisaunya ditusuk di perut bos mafia. Mulai saat itu, popularitas bos mafia menurun dan ia berjanji akan mencari pembunuh tersebut, maka ia memutuskan bekerja sama dengan polisi. Skor yang aku kasih 8/10.

5. Believer


Movie ini dimulai dari pengeboman pabrik pembuatan narkoba dan menewaskan banyak orang hebat. Pelakunya adalah guru lee. Polisi sangat terobsesi untuk menangkap guru lee. Dalam pencarian guru lee yang dibantu oleh seorang pemuda yang selamat dari pengeboman pabrik, polisi menemukan banyak yang mengaku sebagai guru lee dan yang polisi butuhkan adalah guru lee yang asli. Skornya 8/10, karena aku gak tau apakah guru lee akhirnya mati atau hidup.

6. Little Forest


Aku suka movie ini karena menurutku movie mengusung tema self-recognition. Hye won pulang ke kampung halamannya setelah lama merantau ke seoul. Ayahnya udah meninggal dari dia kecil, sedangkan ibunya tiba-tiba pergi saat dia SMA. Niatnya dia hanya sebentar saja di kampung, hanya untuk melepas stress karena gak lulus ujian sertifikasi guru sedangkan pacarnya lulus, tetapi lama-kelamaan dia jadi penasaran sebenarnya apa arti dari surat yang ibunya tinggalkan. Akhirnya, dia tinggal di kampung hingga 4 musim terlewati. Movie ini juga menyajikan persahabatan yang sederhana, tapi rasanya deep. Vibe yang ditampilkan juga buat adem. Skornya 10/10.

7. Villainess


Movie ini tentang perempuan yang dilatih menjadi pembunuh dari kecil di china. Saat ia dewasa, ia ke korea dengan niat mencari suaminya yang katanya dibunuh oleh satu geng mafia, jadinya dia ke korea dan membantai sekelompok penuh mafia. Skill membunuhnya keren banget. Malangnya, ia ketahuan sama polisi korsel. Polisi korea mengambilnya lalu melatihnya dan menjadi pembunuh bayaran yang bekerja untuk polisi. Skornya 10/10, karena dia kuat banget.

8. Extreme Job

Movie ini komedi banget, bercerita tentang sekelompok polisi yang mau tangkap bos mafia tetapi menyamar jadi penjual ayam goreng. Niat mereka mau jualan bohongan, eh jadinya beneran, malah viral dan pengunjungnya banyak banget. Kisah mereka lucu banget dalam jual ayam goreng dan dalam menangkap bos mafia karena setiap tokohnya punya karakter uniknya masing-maisng. Skornya 10/10.

9. Hit and Run Squad



Movie ini bercerita tentang polisi wanita yang turun jabatan karena gagal selesain kasus. Dia diturunkan kebagian kecelakan lalu lintas yang dipimpin oleh polwan hamil dan anggotanya cuma 1 orang laki-laki yang aneh. Awalnya dia kesal, tapi ada satu kecelakaan lalu lintas yang terkait dengan kasus gagalnya dulu. Semuanya jadi terkait dan akhirnya mereka berhadapan dengan pelaku kasus gagal tersebut yaitu seorang mantan pembalap yang obsesi terhadap kecepatan, yang udah banting stir jadi pembisnis sadis. Skornya 10/10/

10. More Than Family

Movie ini baru aja rilis, tapi seru. Bercerita tentang perempuan yang lagi kuliah lalu hamil. Pacarnya masih SMA ingin bertanggung jawab. Perempuan ini baru bilang ke orang tuanya setelah kehamilan 5 bulan. Ibu kandung dan Ayah tirinya pusing mikirin dia. Dia memutuskan untuk pulang kampung nyari ayah biologisnya, tapi setelah dapat, ga sesuai dengan ekspektasinya. Balik lagi ke kota, dia masih belum dapat yang mau dicarinya. Setelah sekian kejadian terjadi barulah dia dapat yang dia takutkan. yaitu dia takut gagal dalam pernikahan dan dia dapat jawabannya dari Ibunya. Skornya 10/10.