Friday, May 6, 2022

Sendiri


Kalian pernah duduk sendiri?

atau pernah ke cafe dan minum atau makan sendiri?

Jika pernah, apa yang kalian pikirkan saat itu?

Apa yang kalian rasakan saat itu?

Aku? Tentu pernah. Malah, akhir-akhir ini aku sering melakukannya. Bukan karena tidak memiliki teman, tetapi ada saatnya aku ingin sendiri. Jalan sendiri. Diam diruangan sendiri. Makan sendiri. Duduk di antrian sendiri. Ingin melakukan semuanya sendiri.

Kesepian? kadang perasaan ini muncul, tetapi aku melakukan sendiri itu bukan karena kesepian. Aku hanya merasa jika aku butuh sendiri. Aku suka diriku yang sendiri, saat itu. Perasaan macam apa itu? aku tidak tahu.

Ada kenikmatan yang tidak dapat kujelaskan saat aku duduk sendiri. Sibuk dengan kegiatanku sendiri. Scrolling Handphone. Baca buku. Buat tugas atau apapun itu. tanpa perlu memutar otak mencari bahan diskusi bersama teman duduk. Aku hanya melakukan apa yang aku mau, tidak terpaku kepada apapun. Aku hanya memperhatikan diriku saat itu. 

Mungkin duduk sendiri masih menjadi hal aneh sekarang ini, apalagi perempuan, khususnya di Aceh. Disini masih sistem duduk di cafe rame-rame, duduk dan berbicara dengan suara-suara besar-besar hingga satu ruangan cafe bisa mendengar curhatannya, disini masih menganut sistem ini. Orang yang duduk sendiri masih dianggap "tidak memiliki teman", "tidak memiliki kehidupan sosial", atau akan menjadi bahan omongan bagi orang duduk "rame-rame", padahal duduk sendiri itu lumrah. Apa salahnya meluangkan waktu untuk diri sendiri?

Sunday, April 24, 2022

Kecanduan


Aku adalah tipe orang yang menjalani hal secara regular dan berulang. Aku tidak suka kejutan ataupun hal dadakan. Menurutku, untuk melakukan sesuatu itu butuh persiapan. 

Aku tidak suka coba-coba, meskipun untuk pertama kali. Belajar dan riset akan aku lakukan sebelum aku melakukan sesuatu. cukup aneh kan? tapi, mau bagaimana lagi karena aku tidak berencana berubah. Sebenarnya, menjadi begini kadang melelahkan. Lalu, bagaimana jika tidak sesuai perkiraan? Yasudah, mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha sebaik mungkin.

Kopi. ya setiap hari aku hampir beli kopi dan minum kopi. Cuma segelas saja kok dan tidak minum minuman berwarna. Kopi dan air putih, itu saja. Menunya juga itu-itu saja. Kedai kopinya juga sama, itu itu saja. Tidak ganti-ganti. 

Awalnya, aku coba minum kopi hanya untuk menunjang begadang saat kuliah sarjana dulu. Yaps, setiap malam begadang, nulis atau kerjain tugas skills lab, susun laporan, agar memiliki kekuatan untuk itu semua, aku minum kopi. Dulu, aku minum kopi sachet je. Dunia perkopianku semakin parah saat 9 bulan susun skripsi, aku bisa minum 2 gelas sehari. Menurutku, itu gaya hidup terburukku. Aku overthinking dengan keadaan ginjal, lambung dan segala macamnya, tapi aku juga tidak berhenti.

Saat masuk koas, aku sudah mulai beralih ke kopi racikan, yaps menguras dompet pastinya. Aku juga mengatur kopiku hanya segelas sehari. Tidak lebih. inilah kecanduan. Aku kecanduan untuk melakukan hal secara teratur, berulang, dan butuh persiapan.

Obsesi terbesarku saat SMA dulu adalah menjadi yang 'terbaik', aku sama sekali tidak peduli dengan menjadi 'nomor satu'. Semenjak masuk kuliah, obsesi itu terkikis sedikit demi sedikit dan menjadi kebalikan. Ah, aku juga mulai mengumbar perasaanku dan targetku pada mereka-mereka. Alahai, ada-ada saja. Mencoba kembali ke obsesi awal ah susahnya minta ampun, bagai dorong batu sebesar diri sendiri.

Menjadi yang terbodoh dikelas itu tidak menyenangkan, aku sudah mencobanya. Jika sudah diberikan cap untuk pertama kali sebagai biang kerok, maka kedepannya akan terus begitu. Mau usaha sebesar gunung pun, tak ada gunanya lagi. Pandangan pertama adalah penentu hidup kedepannnya. Manusia ini sepertinya memang subjektif, jadi mau dikata 'netral' tetap saja akan berpihak 'tipis-tipis'.

Menjadi orang baik juga tidak menjadi rekomendasi sepenuhnya. Orang baik dan mengikuti aturan itu sering disalahpahami. Di cap bodoh juga. Sepertinya menyeleweng sedikit tidak ada salahnya (aku tidak merekomendasikannya dan aku tidak melakukannya), untuk memuluskan jalanmu. Jika menjadi seperti itu, tidak ikut aturan pun akan lolos mulus lancar jaya. sedangkan, menjadi orang baik, saat sedikit tidak ikut aturan, maka akan diperlakukan bagai menghancurkan separuh bumi ini. Sanksinya besar. Mau marah? Hei, inilah hidup.

Isu hidup dan Social issue sebenarnya topik paling seru dibahas ditongkrongan, bersama orang yang tepat. Kalau tidak, ya menjadi ngang ngeng ngong aja. Tulisan ini aku tidak akan bahas social issue, karena itu cukup menjadi tugas band ibukota saja. Mari bahas personal issue-ku saja. 

Malam ini, aku merasa sendiri, meskipun sudah berdiri dalam shaf shalat yang sebarisnya mencapai puluhan orang itu. Aku juga mendengar ayat suci Al-Quran yang sangat merdu dengan irama yang membuat hatiku sejuk. Sebelah kananku juga berdiri temanku. Dia shalat bersamaku, tetapi aku merasa sendiri.

Aku merasa dunia sedang melempar kotoran ke mukaku. Mereka-mereka meninggalkanku setelah merayakan kemenangannya. Aku berjalan di baris terakhir, menunggu mereka menoleh, tetapi tak kunjung juga. Sebelum itu, mereka mengejarku, bagai tak melepaskanku hingga kapanpun. Hari ini, aku merasa sendiri.

Tak terduga, seseorang menoleh ke arahku, datang lalu memelukku, tetapi bukan dari golongan mereka. Golongan yang lain. Aku membuka tubuhku untuk menyambutnya, tetapi dia bilang "jangan terburu-buru". Aku terdiam. Benar. Aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan atas semua ini.

Aku tidak teliti. Tidak serius. Oportunis. Pelanggaran. Polos. Bodoh. Tidak Peka. Tidak berprinsip. Terburu-buru. Apakah ini adalah hasil dari kehilangan obsesi-ku? Tidak ada yang tahu, kecuali aku dan aku tidak ingin memberitahu jawabannya. Cukup aku saja.

Friday, April 22, 2022

Nyata


 I love being alone, but i hate being lonely. Aku sudah dibiasakan sendiri sejak kecil, malah aku kira diriku ini adalah anak tunggal. Siapa yang patut disalahkan atas pemikiranku saat itu? jawabannya tidak ada. Karena tidak ada yang menduga dipikiran anak kecil akan muncul pikiran seliar itu.

Aku tidak suka keramaian. Saat aku tertekan, maka aku bisa diam sepanjang jalannya keramaian tersebut. Aku bisa digolongkan introvert, tapi aku juga bisa menjadi ekstrovert saat aku mau. Semuanya tergantung situasi.

Beda cerita jika sedang bersama teman dekat, maka aku akan banyak cerita dan ada saja bahan yang bisa kubicarakan. Jika mereka menyadarinya, tadi itu aku sedih dan aku marah. Aku tidak suka lukaku diungkit karena aku tidak mengungkit luka orang lain semudah itu. Aku tidak suka lukaku dibanding-bandingkan karena aku tidak membandingkan luka orang lain. Setiap luka itu berharga. Luka itu tempaan untuk keberhasilan. Menurutmu sepele, tetapi tahukah? aku ingin mati menghadapinya. Kamu tahu? nomor sepatu kita berbeda. Aku sangat berharap untuk dimengerti. Aku butuh progres dan aku tahu kalian juga butuh progres. Tolong sedikit mengerti bahwa duniaku memang benar hancur untuk saat ini karena masalah ini. Aku tidak sedang bercanda. Malah, dipikiranku yang sempit ini ada keinginan menyerah, lalu berhenti.

"Mungkin ini belum waktunya. Tuhan punya jalan dan waktu terbaik."

ini adalah nasehat yang kupegang. Inilah optimis tersembunyi diantara pesimis. you know? untuk bisa kembali berpikir positif setelah diterpa kejadian-kejadian diluar ekspektasi itu tidak mudah. Aku butuh menangis berjam-jam terlebih dahulu, berpikir sendiri, makan sendiri, lalu bisa pikiranku kembali waras.

"Ada nangis sit setelah itu?"

Bukan berniat bohong, tapi aku akan jawab "gak kok.", faktanya aku nangis tengah malam hingga mukaku bengkak. Aku terlalu malas untuk mengakui jika aku menangis, secuprit omong kosong yang kubagikan hanya agar tidak dianggap remeh. Sungguh menyedihkan.

Aku alergi hampir semua makanan, makanya aku tidak suka makanan yang dicampur karena aku tidak tahu apa saja yang sudah dimasukkan ke dalam situ, jadi sulit untuk diidentifikasi. Aku merasa tidak dihargai, jadi aku mohon untuk berjarak. Tidak perlu dicari, cukup instropeksi saja.

Melihat rangkuman nilai yang diberikan, bagai bom yang dilempar ke muka. Sangat mencengangkan. Apalah daya usaha, tak dinilai dengan sesuai. Mengambil materi orang, langsung meluncur mendapatkan yang tertinggi. Sungguh ingin mengomentari, tapi bukan pemegang kekuasaan.

Inilah kenyataan yang perlu dihadapi di waktu ini dan umur segini. Tak perlu sangat, sangat bersedih, sangat senang. Inilah hidup, cukup ikuti aliran yang ada, lalu jadilah maka jadilah.


Wednesday, March 16, 2022

Kamu


Aku membuka pinterest, bukan untuk mencari inspirasi, hanya melihat-lihat saja untuk refreshing mata disela-sela belajar. Menurutku, ini sangat bagus, aku mendapatkan kata-kata bagus.

"Membunuh manusia itu sederhana, isi penuh harinya dengan cinta, lalu tinggalkan ia bersama harapannya." - Zhafir Khairan Akalanka

I dont know him/her. Aku mendapatkan kata-kata ini secara random, but cukup membuatku cukup lama berhenti dan membaca berulang-ulang, lalu memikirkannya and, I get the point. 

Dia "baik" kepadaku itu bisa kuartikan sebagai "cinta", setelah itu dia menghilang itu bisa kuartikan "tinggalkan ia bersama harapannya." Kesedihan yang muncul pasca dia menghilang itu "membunuh manusia itu sederhana." 

Aku tidak suka dekat dengan orang baru dan aku juga kurang nyaman jika tiba-tiba seseorang datang padaku lalu bertanya hal-hal yang deep padaku. Aku juga kadang tidak mau menjelaskan dan tidak akan memberikan apa yang mereka mau dariku, karena aku takut akan kecewa.

Memang benar, kita tidak bisa mengharapkan sesuatu itu akan kembali kepada kita, tapi aku merasa saat aku membuka diri pada orang baru, maka disitu sudah terbangun harapan secara tidak sadar. Dia yang akan berbuat baik padaku, lalu setelah mendapatkan mau nya, maka dia akan pergi. Lalu, dia akan menghilang. Aku? ya akan berkubang dalam kesedihan. Aku tidak bisa membiarkan diriku terluka, karena diriku ini berharga. Maka dari itu, untuk mengantisipasinya aku memilih untuk menjaga jarak agar baik-baik saja. 

Hei! orang lain tidak peduli dengan luka yang mereka torehkan padaku, luka yang membuatku berdarah-darah, luka yang butuh bertahun-tahun untuk sembuh. Mereka tidak peduli. Mereka hanya peduli dengan diri mereka, sama sepertiku dan sepertimu. Jadi, aku menyimpulkan untuk mengutamakan dirimu itu terlebih dahulu.

Kamu. ya, Aku. Hanya diri ini saja yang bisa menjaga diri ini dengan baik. Saat sedih, diri ini akan berusaha untuk bangkit. Ketika marah, diri ini akan berusaha menetralkan perasaan hingga menjadi baik-baik saja. Ketika kecewa, hanya diri ini yang memberikan memberi pengertian dengan baik. Dirimu dan diriku, yaps diri ini harus dijaga baik-baik, karena tidak akan "membunuh secara sederhana."

Tuesday, February 15, 2022

Pandangan



Aku kelelahan dan ada banyak keluhan yang bersarang di kepalaku. Berlomba ingin dijabarkan, tetapi seketika terlupakan saat mendengar cerita dari yang lain. Merasa ceritaku sama sekali tak penting. 

Sudah lama aku tidak menyisihkan waktu untuk diriku, kurasa ini waktu yang tepat untukku menarik diri dari segala urusan. Aku hanya orang yang mengenali diriku dengan baik, kurasa banyak orang yang salah paham dan salah menilai tentang aku. Juga, aku terlalu merasa tidak penting untuk mengklarifikasi segala yang mereka tahu.

Aku baru saja menonaktifkan Instagram-ku, hanya untuk sementara saja karena aku ingin kembali belajar dan membuat catatan. Aku juga berusaha tidak membalas pesan yang masuk ke ponselku secepat kemarin-kemarin. Juga, ditambah aku baru saja membuat masalah, dan aku salah untuk itu semua. Aku memutuskan untuk memilih ini karena kurasa ini adalah pilihan yang paling tepat. Mundur secara perlahan. 

Tentu saja, kesepianku semakin bertambah intensitasnya. Tidak masalah. Aku hanya perlu menikmatinya dan menyelaminya dengan seksama, juga merasakan segalanya secara perlahan. Aku merasa sudah berkhianat terhadap diriku dan kepada mereka, tetapi merasa bersalah kepada dia. Jika ke depan ada perpecahan, tentunya itu secara sempurna karena diriku yang terlalu ikut campur. 

Inilah alasanku tidak ingin peduli pada siapapun, karena jika sudah peduli maka aku akan melibatkan diriku pada masalah mereka dan berusaha menyelesaikannya. Ah, aku sudah membuat pilihan yang menyesakkan. Satu pihak, sudah hilang rasa percayanya. Pihak lain, tergores hatinya karena kenyataan yang ada. Aku? aduh, tidak terlalu penting bagaimana aku. Mungkin sudah terlalu banyak luka yang terjadi padaku, hingga aku sudah terlalu biasa. Yaps, mundur perlahan dari segalanya adalah pilihan yang tepat menurutku.

Monday, December 20, 2021

Berhenti


"Sit, aku mau berhenti."
kata seorang temanku. Dia bukan seorang yang banyak bicara, bukan seorang yang menceritakan dirinya kepada yang lain. Dia adalah pendengar yang baik, tidak mudah terpengaruh, dan bisa masuk ke dalam beberapa lingkungan. Secara tidak sadar, dia adalah adaptor yang baik. Ahh, malu sangat jika dia baca ini, tetapi aku akan tetap melanjutkannya.

Aku sudah mengenalnya dalam jangka lama dan kami berhubungan baik. Bukan hanya dia saja, tetapi beberapa teman yang lain. Kami sering belajar bersama hingga berbagi kisah manis pahit kehidupan bersama. Bukankah kita butuh berbagidalam hidup ini? Mau itu luka ataupun gembira? dan bukankah kebersamaan itu menyenangkan?

Mendengarnya mengeluarkan statement  seperti itu, jujur saja aku terkejut. Aku tidak tahu bersikap. Hingga akhirnya, "kapan?" ahh bodoh sekali pertanyaan ini. Aku tidak bisa bertanya kenapa, tidak bisa. Aku menunggunya memaparkan alasannya. pasif sekali aku bukan?

Mendengar pertanyaan bodoh ini, dia tertawa. "Aku takut nyesal." katanya. Aku tidak tahu bersikap bagaimana. Aku tidak mau dia berhenti. Dia bisa, aku menyakini dia bisa. Aku tidak mau dia menyesal. Menyesal adalah fenomena yang sulit disembuhkan, menyesal adalah penyakit yang akan menggerogoti tubuh dan jiwa secara perlahan selama sisa kehidupannya. Obatnya adalah kembali ke masa sebelum menyesal, tapi apakah kita bisa kembali ke masa lalu? Jawabannya tidak bisa dan itu berarti menyesal itu tiada obat.

Aku melihatnya sebagai seorang yang mampu melakukan apapun yang dia mau, dia pintar, dia memiliki ambisi meskipun belum coba dijungkil olehnya, dan dia adalah seorang yang mau berusaha. Aku menyukainya.

Jika bisa, aku ingin menyelami pikirannya dan membongkarnya, lalu menghilangkan “berhenti” itu. Ia tidak boleh berhenti, egoisku dalam hati. Aku tidak bisa mengatakannya. Ia punya keputusannya sendiri, hei apakah boleh rencana itu dihilangkan saja?

Ada banyak kelebihan jika kamu bertahan. Meskipun aku tidak bisa menjawab segala masalahmu, tapi aku akan berusaha membantumu keluar dari masalahmu. Tidak ada kata “terpaksa” dalam mengerjakan sesuatu, bukankah sekarang ini kita butuh trigger dalam mengerjakan sesuatu? Mari kita ganti kata “terpaksa” menjadi trigger.

Jika kamu berhenti, apakah kamu tidak merindukan kita ngafe bareng? Atau kami yang ke kos mu dari pagi hingga sore, tidak jelas mau ngapain, lalu mengomentari detak jam-mu yang sangat besar itu, mengomentari pemilik kos yang tidak mengaspal lorong depan kosmu sehingga kita off-road jika kesana, mengomentari tidak ada air di kos-mu, mengomentari kecepatan jaringan Wi-fi kos-mu, menghabisi jajanan yang dikirim nenekmu, membajak kursi belajarmu, membajak kasurmu, ah banyak sekali yang sudah kita lakukan bersama. Masa kamu berhenti sekarang? Bisakah kamu menggantikan kata “berhenti” dengan “menyelesaikan”? Kurasa tidak lama lagi kita akan selesai. Mari bersabar dan tetap berjuang.

Kita masih tetap berteman meskipun aku berhenti.” Heh, itu tidak akan sama lagi, teman. Kita sudah menjalani jalan berbeda. Pokok bahasan kita sudah berbeda. Meskipun kita berkumpul, pasti akan ada bahasan yang ditahan, takut menyakitimu atau membuatmu sedih. Kamu pun akan menimbun rasa rendah diri, dan kami pun tidak berani bertanya. Takut melukaimu.  Sudah tidak se-leluasa seperti sekarang. 

Aku tidak akan sedih.” Jika katamu begini, aku menyarankanmu untuk pulang lalu berdiam dikamar sendirian. Lepaskan topeng yang sudah kamu pakai seharian, lalu lihatlah ke cermin. Apa mau ku sebenarnya? Apa aku tidak sedih? Coba kamu tanya ke dirimu lalu cari jawabannya, tidak perlu menahannya, cukup katakan saja. Toh ini hanya kamu sendiri yang merasakannya dan yang tahunya. Ini tentang kamu, apa benar maumu seperti itu? Cobalah kamu telusuri lagi. Setelah mendapat jawabannya, peluklah dirimu sendiri dan berterimakasih pada dirimu karena sudah mau jujur.

"tidak bisakah tidak berhenti?" 

Thursday, December 16, 2021

Kerja Sama



Tengah malam begini seharusnya tidur, bukannya menulis di sini. Hei, aku ini bukannya tidak tidur, malah aku sudah sangat merindukan pulau kapukku, tapi apalah daya laporanku belum selesai. Mari kuceritakan beberapa hal mengenai malam ini disela mengetik laporan ini.

Kelompokku dibimbing oleh dosen yang sangat luar biasa menurutku, aku menyukai ide-ide beliau, keterbukaan, dan kekreativitasan beliau. Beliau mungkin adalah impianku di masa depan. Dibawah bimbingan beliau, kami akan melakukan survei berskala provinsi, luar biasa bukan?

Sebelum melakukan survei, maka kami harus menyusun laporan, mulai dari naskah hingga metode penelitan atau survei. Nah, penyusunan ini akan dilakukan 5 orang, yang dipilih secara adil atas persetujuan semua anggota kelompok, termasuk salah seorang yang terpilih ialah aku.

Kami diberikan 3 hari untuk menyusun hingga tinjauan pustaka. Tuhan punya rencana yang lebih baik yaitu aku dan temanku seorang saja yang menyusun. Yang lain? ntah kemana. Mereka memiliki alasan. 

Hei, menjadi dapat diandalkan itu tidak enak. Posisiku dan mereka itu sama, tetapi mereka secara tidak sadar menganggap ku sanggup menyelesaikannya. Itu menyebalkan. Memang benar, kadang aku menghapus apa yang sudah teman-temanku tulis, itu kulakukan untuk menyelaraskan dan membuatnya lebih baik, bukan karena aku tidak menghargai mereka.

Hal yang paling kusuka adalah kerja sama, pembagian beban kerja yang sama, diskusi untuk pengembangan ide, dan menyusun bersama. Bukankah itu lebih baik? sehingga tidak perlu merasa "lebih capek." Hmm, benar benar ya.

Wednesday, December 15, 2021

Tuaian


Mari kuceritakan apa yang kualami minggu lalu, ini bukanlah cerita menarik macam di novel-novel itu. Ini hanya cerita singkat yang kebetulan terjadi padaku, lalu aku menuliskannya disini sambil menunggu dosenku join zoom meeting.

Hari minggu kemarin itu, aku keluar dengan temanku. Teman sekelas sewaktu SMA, teman yang selalu kena hukuman berdua disuruh lari keliling lapangan, teman yang sama-sama suka makan mie, teman yang suka kemana-mana pakai motor, teman yang ga jelas kemana yang penting jalan aja dulu, teman yang suka coba makanan baru lalu mencret bersama-sama, teman gosip hal yang gak penting, dan teman curhat tanpa penyelesaian yaitu ine. Heh, tapi kalian tahu? sudah keren dia sekarang. Ine, sudah jadi pegawai negeri, sangat bangga rasanya. Awalnya, aku bukan teman dekat dia, dia memiliki teman dekatnya sendiri dan aku juga sama, ntah bagaimana bisa akhirnya kami berteman dekat? God's plan, I think.

Destinasi terakhir kami hari itu adalah membeli buku praktis Tes Potensi Akademik (TPA) di gramedia, lampineung. Kami berdua sambil bercerita diatas motor dan disiram panas matahari, kulit gosong tapi tak ada keluhan karena sibuk bercerita. Kami parkir di depan kedai thai tea tepat disamping pintu keluar, mau tahu kenapa? ya karena biar lebih lambat untuk sampai ke pintu masuknya, bercerita lagi, tak ada habis-habisnya.

Saat kami pulang, tak kusangka bapak jaga parkiran sudah ada dibelakang kami, terkejut rasanya. Bapak ini sudah biasa kulihat tapi itu setahun lalu. Hei, aku sudah jarang nongkrong di kedai Thai tea itu sekarang dan kedainya juga sudah berubah. Bukan kedai yang biasa kujajani layaknya selama 3 tahun belakangnya. Aku ini susah untuk makan atau minum makanan baru, perutku tidak cocok semua tempat. Bisa mencret aku. Lemah sekali bukan?

“Hei, apa kabar?” Sapa bapak itu padaku sambil menggepal tangannya dan mengarahkan ke arahku. Jujur saja, aku bingung bagaimana meresponnya. Aku ini tidak suka bersentuhan dengan orang lain. Akhirnya, aku juga mengarahkan tinjuku ke kepalan tangan bapak itu.

“Sangat baik.” Sambil cengengesan dan mengangguk macam boneka Dashboard mobil itu.

“Sekarang kerja?” Tanyanya. Oh Tuhan, stres aku mendengar pertanyaan ini.

“Masih kuliah pak. Koas pak.” Aku menjawab dengan suara terjepit sehingga terdengar seperti cicit tikus.

“Tahun depan selesai?” Lanjutnya. Aamiin, ucapku dalam hati. 

“Insya Allah Pak.” Aku mengangguk sambil menaruh koin ke tangannya. 

“Saya duluan pak.” Akhirku sambil menepuk ine untuk meng-gas motor sesegera mungkin. Mantap ine, dia langsung mengerti.

Aku cukup terkejut mengetahui jika bapak itu masih mengenalku. Ahh, apa yang sudah kulakukan sehingga bapak itu mengingatku. Aku ini kadang cengengesan tidak jelas, banyak omong juga iya kadang, atau bisa juga sok asik gak jelas. Alahai Ramlah, sudah ngapain kamu? Apakah ini yang disebut menuai?

Sepanjang perjalanan pulang, ine asik memuji bapak ini karena ramah menyapaku. Alamak ine ini, tidak tahu saja kalau kawannya ini mungkin saja sudah melakukan hal aneh sehingga bapak itu dapat mengingat dengan baik aku ini. 


Monday, December 13, 2021

Pulang



Beberapa hari yang lalu aku baru saja menamatkan novel "Pulang" karya Tere Liye, ini kali keduaku menamatkannya. Pertama kali kutamatkan novel ini sekitar 1 tahun yang lalu. Yah, pandemic make me have a lot of spare time. Aku juga merasa aku cukup gila bisa menamatkan novel di tengah koas begini.

You know? Aku big fans dari Tere Liye, aku sudah membaca hampir semua karangan beliau. I really enjoy it. "Pulang" bercerita tentang Bujang yang dititipkan oleh bapaknya, Samad, atas restu ibunya, Midah, ke anak mantan bos samad di ibukota, tauke muda. Awalnya aku mengira Bujang itu akan dididik menjadi tukang pukul untuk keperluan keluarga itu, tapi Bujang ini adalah anak spesial dan syukurnya Tauke muda dapat melihat spesialnya itu. Jadi tauke menyekolahkan dan juga melatihnya menjadi tukang pukul, sekali menggarap dua pulau dapat tercapai. Begitulah istilahnya.

Tere Liye ketika menulis, tulisannya itu bisa membuatku termotivasi. Aku merasa ia mendukungku dalam perjalananku menggapai mimpi dan aku juga menemukan intinya, ada nilai yang diberikan, dan aku juga merasa aku bisa mengerti maksud tulisannya itu. Bukankah cukup membingungkan maksudku itu? tapi aku tidak akan menjelaskan maksudnya lebih lanjut. Cukup simpan saja pemahaman untuk diri kita masing-masing.

"Pulang" membawaku untuk menerima kelebihanku, kekuranganku, keburukanku, kebaikanku, dan setiap yang ada pada diriku. "Pulang" membawaku melihat diriku lebih dalam dan lebih detail. Aku rasa aku telah berlari terlalu jauh, bersedih terlalu dalam, dan bersenang terlalu tinggi, hingga aku tidak bisa kembali, "Pulang" ini membawaku ke tempat seharusnya ku kembali.

Awalnya, aku berpikir makna pulang itu adalah aku kembali ke keluargaku, kerabat, sahabat, atau teman-teman, tetapi setelah aku memahami lebih jauh maksud Tere Liye dalam novel itu, aku menemukan bahwa pulang itu berarti kembali kepada diri sendiri dan menerima diri ini bukan milik diri tetapi milik yang Maha Kuasa,  zat yang wajib wujud, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Ahh, cukup sekian saja aku bercerita hari ini, semoga ada isinya ya.

Friday, November 26, 2021

Marah














 I really hate my self when I'm angry, I can be so fucking rude.

Setelah kuingat-ingat, aku udah lama gak marah, selama ini jika ada sesuatu yang membuatku marah, aku akan pura-pura tidak peduli atau pergi keluar rumah, bisa jadi untuk main atau lainnya. Intinya aku tidak dirumah. Sekian lama itu akhirnya tadi pagi aku marah, aku sangat kasar jika marah. Kata-kata yang kukeluarkan akan menyakiti siapapun dan aku akan bertindak abusif. You know? mengendalikan diri saat marah itu sangat susah.

Seharusnya mereka mengerti dan paham, kenapa aku tidak pernah menjawab atau membantah atau bertindak-tindak anteng-anteng aja setiap hari, tapi faktanya mereka tidak pernah mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Aku tidak suka barang bekasku pakai dipakai orang lain. Menurutku, harus ada batas diantara itu semua. Contohnya gelas, aku tidak suka orang lain minum dari gelas bekasku minum kecuali sudah dicuci. Yaps, jika sudah dicuci, its fine silakan pakai. Lalu, setelah dipakai, taruh di tempat semula.

I think not all people will be understand it. Its make me tired. Sebelum marah, aku berusaha menekan emosiku agar tidak meledak. Aku diam dan diam. Jika ada seorang saja yang berusaha mengangguku, nah disitu awal mula aku akan marah, lalu akan berlanjut seharian. Aku akan mengungkit semua kesalahan. Kesalahan kecil akan tampak. Jika dibilang aku detail, maka bisa jadi. Jujur saja ini sangat melelahkan.

Setelah marah, kepalaku akan mengulang kembali kejadian tadi-tadi seperti kaset rusak. Aku tidak bisa minta maaf, karena marah tadi itu juga sebagai peringatan untuk mereka, aku bukan orang yang mudah marah jadi jangan pernah menginjakku, jika berani menginjakku maka aku tidak segan-segan akan lebih kasar padamu. Aku benci tertindas, jadi aku akan berusaha menaikkan diriku apapun yang terjadi. Aku orang cukup keras jika aku mau. Aku tidak berharap orang akan mengerti diriku, tetapi aku sangat berharap seseorang dapat menghargai orang lainnya.

Monday, November 1, 2021

People


Beberapa orang mendapatkan sesuatu hanya dengan merubah mimik muka untuk merengek,

beberapa yang lain memutar otak untuk menjawab,

beberapa yang lain menghalau malam untuk berdoa,

beberapa yang lain melawan pikiran nakal,

beginilah cara beberapa orang mendapatkan sesuatu

Alangkah indahnya bagi mereka yang berusaha sekuat hati dan tenaga