Wednesday, January 4, 2023

Lagi


Aku menunggu disemangati, tetapi tidak kunjung datang. Aku cukup naif, ternyata.

Jika dapat kembali ke masa lalu, maka akan aku jahit mulutku agar tidak berbicara hal yang aneh-aneh. Oh ya, tidak menyemangati juga. Energi positif kuberikan, lalu dilempar kepadaku tidak semangatnya.

Sungguh melelahkan selayaknya memilin benang sepanjang lapangan bola. Apa melelahkan atau kesepian? Ah, bodoh, itu saja tidak bisa dibedakan.

Disana. Iya, disana. Mereka sedang mengulas kehidupanmu dan kamu disini, sedang berlutut untuk bangkit melukis masa depanmu. Bodoh, bodoh, bisanya kamu baik pada orang sejahat itu.

Kamu kira mereka memikirkanmu? Tidak. Itu hanyalah segerombolan manusia yang memikirkan diri sendiri. Kamu? Hanya aktor dalam cerita yang dikeluarkan mulut mereka.

Kamu! iya, kamu. Jangan terlalu merendahkan dia. Dia tidak menanggapimu karena sedang menyiapkan bom yang sewaktu-waktu akan ditempelkan ke badan angkuhmu itu. Halah, jangan terlalu tinggi saat bicara, soalnya tidak terdengar. Buang-buang suara saja.

Ah, tapi bagus juga sih. Kamu merendahkannya, itu berarti kamu sudah membangunkannya. Anak tidak ada harapan itu dulunya diselimuti ambisi. Siap-siap, dia akan datang menyerangmu tepat di depan wajahmu.

Sunday, November 13, 2022

Acak

Tau gak? aku itu anaknya random pake banget. Kepalaku ini ada-ada aja isinya. Kadang aku maunya gak usah mikir. Ya, otakku diam aja. Tidak perlu aktivitas gitu. Kalau di EKG, kalau bisa garis lurus ajaa gitu. Masalahnya, gak bisa. Ada aja yang melintas di kepala cantik ini.

Aku kan maunya nge-gembel aja di rumah. Makan-Tidur-Bangun-Berak-Nonton-Rajut-Makan lagi-Tidur. Sedap benar kalau pola hidupku begitu. Skip olahraga, bikin capek, keringatku keluar, habis itu kulitku gatal. Dengan alasan, duit ngalir terus kaya taik hidung pas lagi flu. 

Kalau bisa, kasusku kelar tanpa aku gunain otakku buat mikir susunan rencana perawatannya, psikologi pasien, keramahan suasana dental unit, dental fobia pasien, drama-drama keilmuanku yang bisa dibungkam dengan satu pertanyaan dan drama-drama perkoasan ini. 8 jamku untuk tidur, sisanya semuanya buat koas. koas is lyfe.  Ya Allah, aku merasa buat nafas aja capek, apalagi buka tutup mata, huftt butuh effort.

Mungkin kalau aku hidup di jawa, sabtu minggu aku akan sibuk nyari-nyari orkestra dimana gitu, buat plong-in kepalaku ini. Yah, yang isinya acak semua.

Oh ya, bisa gak sih mie instan itu menjadi makanan yang sehat? Aku suka banget mie, segala jenis mie sih sebenarnya, tetapi mie instan yang paling mudah dijangkau. Kadang ada saat aku udah menahan diriku untuk gak makan mie, eh pas ke market, godaan besar banget untuk gak ke rak mie, alhasil aku beli lagi mie instan. hihihi..

Ya Tuhan, ternyata seacak itu yaa....

Saturday, November 5, 2022

Review : Ngeri-Ngeri Sedap (Movie)

 

Btw sebelum kita mulai, aku punya rekomendari lagu lagi buat kalian yaitu lagunya Shallou yang berjudul here. Beuh, mantap benar lagunya, vibe-nya sendu abiss. I love lagu sendu. Rekom pokoknyaa.

Sorry, sebenarnya aku akan nulis ketika puyeng sama kegiatanku selama koas ini, ya semacam pelarian gitu. Aku juga belum percaya diri kalau semisal ada yang ikutin laman ini. Rasanya aneh cuy. Okey, Mari kita bahas mengenai film satu ini, sumatera punya barang ini, batak pride. Aku bukan batak tapi aku suka dengan film yang mengangkat isu perempuan begini.

Aku tahu film ini dari temanku. Waktu itu kami sedang makan siang di kantin sambil diskusi kasus-kasus yang kami kerjakan. eh, ntah bagaimana, temanku ini malah merekom film ini.

"Sit, ke harus nonton ya." aku jawab waktu itu, "ga janji." Oh ya, di Banda Aceh ini 'ke' kami pakai kata itu untuk merujuk 'kamu'. Kadang kami pakai kata 'kamu', kalau bicara dengan yang lebih muda atau orang yang baru kami kenal. Untuk sebaya dan saling kenal, biasanya ya 'ke'.

"Sit, wajib buat ke ini, ke pasti relate karena ke anak perempuan pertama."

"Sit, iyaa wajib, ke relate karena ke selalu ngalah."

Whattt! "memangnya aku selalu ngalah ya?" aku terkejut dengan apa yang dikatakan temanku ini. Aku tidak merasa mengalah, hanya saja aku tidak bisa berdebat, jadi aku akan memilih mundur saja.

Jadi, alhasil karena aku sudah termakan bujuk rayuan teman-temanku, aku pun menonton film ini. Wah, ini film sangat relate denganku, apalagi dengan tokoh sarma. Sarma yang awalnya kukira cuek terhadap masalah keluarga.

Film ini di awal-awal membosankan. Aku disuguhkan drama keegoisan orang tuanya, ayahnya yang ingin memamerkan keharmonisan keluarganya (padahal tidak), ibunya yang hanya bisa mengikuti kemauan ayahnya (tidak cukup kuat untuk melawan keinginan ayah), 3 orang anak yang kuliah  hingga bekerja di jawa (yang tidak mau pulang padahal ibunya sudah mohon-mohon untuk pulang), dan 1 anak perempuan yang menjadi tumbal dari 5 orang egois. 

Adegan yang membuatku nangis yaitu saat ibunya membongkar jika ingin cerai itu hanya pura-pura, agar 3 anak laki-laki mau pulang ke kampung, lalu mereka bilang kecewa kalau sarma sudah membohongi mereka. Awalnya, sarma diam, karena terus dibombardir, sarma tidak tahan, dan mengungkapkan semua yang terjadi padanya, apa yang sudah mereka melakukan kepadanya secara tidak sadar.

Jujur, aku menangis hingga sesenggukan di adegan, hingga aku berpikir, "gila aku, ngapain sih seheboh itu? padahal cuma adegan film." 

Mungkin, secara tidak sadar, aku adalah sarma untuk keluargaku. Semangat anak perempuan pertama, beban yang kamu pikul berat, jadi gak ada cara bertahan hidup selain semangat.

Wednesday, November 2, 2022

Harap


 Teman-temanku sudah menyelesaikan ujiannya. Dua dari lima teman dekatku ikut juga. Aku senang. Mereka bekerja keras untuk itu, jalan yang mereka tempuh sangat berliku. Jangan lupa untuk berterimakasih kepada diri kalian sendiri, teman.

Terimakasih sudah mengingatku dengan mengirimkan pesan pribadi kepadaku sebelum kalian ujian, aku sangat tersipu sekaligus terharu. Aku tentunya tidak memiliki keberanian untuk menyapa kalian terlebih dahulu, segan rasanya, dan aku rasa sudah memalukan mengeluhkan lelahnya perkoasan dengan kalian. Mungkin ditelinga kalian apa yang kukeluhkan hanyalah dongeng-dongeng yang sudah kalian lewati. Jadi, terimakasih sudah membuka pembicaraan denganku.

Aku turut senang melihat postingan euforia kalian di sosial media. Hatiku memang terasa tersentil saat melihatnya, tapi itu hanyalah perasaan pribadiku saja yang akhirnya kubagikan di laman pribadiku ini. Setengah diriku menyalahkan diriku, "mengapa aku tidak bisa secepat kalian?", tapi setengahnya lagi berteriak, "Ini bukan kamu yang lamban, Tuhan hanya terlalu menyayangimu dengan memantaskanmu sedikit lebih lama dari teman-temanmu."

Aku tahu yang seharusnya kulakukan, yaitu menonaktifkan sosial media agar tidak mengetahui apapun sehingga aku tidak perlu bersedih begini. Aku tidak perlu iri seperti ini. Aku tidak perlu sentimentil begini. Sekarang karena tanganku yang tidak bisa diam, aku jadi menggalau begini.

Ya Tuhan, kuatkanku dalam perjalanan ini, berikanlah pikiran yang jernih untuk menghadapi ini, bersihkan hatiku dari kedengkian terhadap yang hal tidak jelas ini.

Mereka tidak salah, yang salah itu aku karena tidak bisa menahan diri. Mereka hanya mengapresiasi diri, sedangkan aku tidak bisa menjaga mataku sehingga bisa melihatnya, lalu bersedih akibatnya. Ya Tuhan, aku berserah diri padamu.

Saturday, September 3, 2022

Tidak selalu



Ada masa aku ingin menyerah dan merasa malu. Aku bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah dari aku kecil hingga lulus SMA. Menurutku, aku cukup berdoa dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak perlu memedulikan faktor keberuntungan dan orang dalam. Ah, tapi semakin kesini, aku semakin menyadari jika faktor yang kukecualikan adalah faktor yang lebih penting dari faktor yang kupedulikan.

Sekarang perjalananku lebih lambat dari yang lain, aku ketakutan. Sisi lain, aku ingin menenangkan diri dan menyalahkan keadaaan. Sisi lainnnya lagi, aku tidak mau menyalahkan keadaan, karena itu semua tidak bisa disalah. 

"Kenapa dia bisa?" 

"Kenapa aku tidak bisa jika keadaan kami sama?"

Aku merasa bersalah dan merasa terpuruk pada diri sendiri. Aku juga tidak bisa menceritakan ini pada orang lain, karena orang lain menganggap aku mampu, faktanya, "aku tidak bisa dan ingin menyerah."

Aku mencoba percaya pada diri sendiri, aku mampu dan akan mampu. Ingat! Tuhan bersamaku. Tapi, pemikiran ini hanya bertahan beberapa saat, karena di saat berikutnya akan dengan gampangnya menghilang. Kira-kira beginilah perasaanku saat awal-awal menyetir mobil sendirian, aku deg-deg setengah mati. Saat mulai mengeluarkan mobil dari pagar, aku berdoa agar sampai tujuan dengan baik dan saat sudah tiba disana, aku sudah mulai overthinking perjalanan pulangnya. Beberapa saat, aku mulai berhenti nyetir demi mendapatkan ketenangan. Setelah lama, aku menjadi gugup kembali saat nyetir. Nah, beginilah perasaanku saat mulai mengerjakan kasus pasien. Aku deg-degan setengah mati, tapi aku juga kecanduan untuk mengerjakannya hingga selesai, jika bisa hingga pasien puas dengan hasil yang sudah kuusahakan semaksimal mungkin.

Aku juga menyadari hal lainnya yaitu menangis tidak akan menyelesaikan masalahku, tapi cukup membuatku lega. Beban dipundakku rasanya terurai sedikit demi sedikit. Aku juga perlu konsisten dalam melakukan sesuatu, tidak peduli berapa banyak air mata yang keluar, berapa banyak kopi yang kuminum, atau berapa banyak keringat yang bercucuran. yang penting, selesai.

Baiklah, akan aku ceritakan satu kejadian malam ini, kejadian yang membuatku kesetrum. Beberapa bulan lalu ada satu hari adalah jadwal untuk mendaftar kerja dibagian bedah mulut, aku masih harus menyelesaikan 7 requirement pencabutan, cukup banyak kan? dimana artinya aku harus berburu jadwal setiap pembukaannya. Saat pembukaan ini akan terjadi perebutan yang mati-matian karena slot yang tersedia hanya 5, sedangkan koas yang ingin bekerja berkali lipat dari slot yang tersedia. Nama yang sudah ada di slot juga bisa jadi tidak masuk. Intinya, tidak semudah itu ferguso!

Jangan terlalu berharap. Seharusnya aku mengatakan ini berulang kali kepada diriku, dan jika lupa, maka harus diingatkan. Tadi sore karena namaku sudah terisi di slot, aku menghubungi pasien dan mengatakan pada pasien bahwa besok pagi kami akan melakukan pencabutan, eh siap magrib barulah diumumkannama koas yang sudah tentu masuk dan namaku tidak ada disana. Sudah kepalang basah, aku pusing tidak tahu cara memberi tahu pasien dan takut pasien menolakku di kesempatan kedepannya. Tapi pada akhirnya, aku memberi tahu pasien bahwa kami tidak jadi masuk untuk besok pagi dan akan dicari jadwal lagi secepatnya dan pasien juga mengancam ia mau mencabut ditempat lain saja. Mengsedih.

Beginilah fitrahnya manusia, mengejar apa yang bisa dikejar, hingga lupa kalau Mahakuasa sudah menyusun jalan dengan indah

Friday, September 2, 2022

Terhenti


Btw, aku lagi suka playlist yaeow di spotify. Bagi yang suka vibe sendu, aku sarankan untuk mendengarkan. Candu banget musiknya. Aku ga terlalu  paham makna yang terkandung dalam lirik lagu, tapi untuk tone musiknya, aku bisa kasi rate 9/10. 

Katanya, jangan lihat progres orang lain. Nikmati aja jalan yang udah ada milik diri sendiri. Setiap orang punya waktunya masih-masing kok, ya tentunya beda-beda. 

Ini ungkapan yang sering dikatakan. Ada yang mengatakan ini sekedar basa-basi, ada juga yang benar-benar. Tapi, lebih sering diungkapkan oleh orang yang sudah pasrah terhadap keadaan. Seperti siapa? ya, seperti aku ini.

Mengeluh. Mengeluh dan mengeluh. So, where my syukur? Aku tanya ke diri sendiri. Lemme tell u, mengapa aku punya pertanyaan ini. 

Beberapa bulan lalu aku ngopi, ditempat biasa, sambil buat tugas dan sambil tunggu adikku pulang sekolah. Selang 10 menit, ada saja pengamen atau pengemis yang datang, banyak metode yang mereka gunakan. Ada yang beruntung dan ada yang  dalam proses menunggu.

"Kenapa mereka memilih jalan ini?" Aku tanya ini pada temanku dan pertanyaan ini pernah juga aku tanya ke kakak iparku.

"Bisa jadi awalnya coba-coba, lalu menguntungkan, maka dilanjutkan atau mereka sudah kehabisan cara dan ini adalah jalan satu-satunya." jawab kakak iparku saat itu.

Posisiku sekarang juga adalah menunggu. Menunggu kepastian dan menenangkan diri. Ini membuatku iri pada mereka yang sedang berprogres. Mengiri di saat aku dipaksa berhenti oleh keadaan. Mungkin 10 tahun kedepan, masalah kali ini adalah masalah yang paling remeh diantara masalah-masalah yang aku hadapi. Untuk saat ini, aku seperti sedang melihat duniaku runtuh. Aku tidak bisa lagi merasa lebih bersyukur dengan membandingkan hidupku dengan hidup si pengamen. Aku sedang merasa tidak baik-baik saja dan hasil rajutanku bertambah banyak saja.

Aku sedang menunda kelulusanku sendiri. Aku sudah tidak tahu lagi titik masalahku. Aku sudah tidak memiliki pendapat untuk diriku sendiri. Aku mengikuti alur yang sengaja dibuat berliku-liku. 

5 stages of grief ku masih depression, belum sampai ke tahap acceptable. Bisa jadi aku akan kembali menghadap jika sudah tiba ke tahap acceptable. Saat itu pasti aku sudah pasrah tingkat dewa meskipun dihantam hingga sekujur tubuhku remuk. Aku tidak suka perasaan menggebu yang terpendam dalam diriku, bagai tak ada hari esok ini. Aku mencintai diriku yang rileks, yang tidak 'dapat' pun masih oke saja. Bukan begini, terburu-buru mengejar langkah mereka-mereka, meskipun aku sadar, langkahku tak sebesar milik mereka. Ah satu lagi, perasaan iri, ini membuatku seperti orang tidak waras. Seharusnya aku tidak perlu iri. Setiap jalan akan ada ujungnya, ujungku beda dengannya.

Mau tau kenapa aku jadi kaku begini? kerja sesuai aturan? sebelum bekerja memastikan diri untuk pelajari SOP terlebih dahulu? karena aku apes. Apes saat aku tidak mengikuti aturan, aku akan terjebak. Aku akan ketahuan. Aku tidak berani curang karena ini.

Aku ini sudah pasrah terhadap keadaan. Ungkapan "...setiap orang memiliki waktu masing-masing." masih saja membal di diriku, tapi makin kesini makin benar saja kata-katanya dan makin jelas saja pembuktiannya.

Friday, May 6, 2022

Sendiri


Kalian pernah duduk sendiri?

atau pernah ke cafe dan minum atau makan sendiri?

Jika pernah, apa yang kalian pikirkan saat itu?

Apa yang kalian rasakan saat itu?

Aku? Tentu pernah. Malah, akhir-akhir ini aku sering melakukannya. Bukan karena tidak memiliki teman, tetapi ada saatnya aku ingin sendiri. Jalan sendiri. Diam diruangan sendiri. Makan sendiri. Duduk di antrian sendiri. Ingin melakukan semuanya sendiri.

Kesepian? kadang perasaan ini muncul, tetapi aku melakukan sendiri itu bukan karena kesepian. Aku hanya merasa jika aku butuh sendiri. Aku suka diriku yang sendiri, saat itu. Perasaan macam apa itu? aku tidak tahu.

Ada kenikmatan yang tidak dapat kujelaskan saat aku duduk sendiri. Sibuk dengan kegiatanku sendiri. Scrolling Handphone. Baca buku. Buat tugas atau apapun itu. tanpa perlu memutar otak mencari bahan diskusi bersama teman duduk. Aku hanya melakukan apa yang aku mau, tidak terpaku kepada apapun. Aku hanya memperhatikan diriku saat itu. 

Mungkin duduk sendiri masih menjadi hal aneh sekarang ini, apalagi perempuan, khususnya di Aceh. Disini masih sistem duduk di cafe rame-rame, duduk dan berbicara dengan suara-suara besar-besar hingga satu ruangan cafe bisa mendengar curhatannya, disini masih menganut sistem ini. Orang yang duduk sendiri masih dianggap "tidak memiliki teman", "tidak memiliki kehidupan sosial", atau akan menjadi bahan omongan bagi orang duduk "rame-rame", padahal duduk sendiri itu lumrah. Apa salahnya meluangkan waktu untuk diri sendiri?

Sunday, April 24, 2022

Kecanduan


Aku adalah tipe orang yang menjalani hal secara regular dan berulang. Aku tidak suka kejutan ataupun hal dadakan. Menurutku, untuk melakukan sesuatu itu butuh persiapan. 

Aku tidak suka coba-coba, meskipun untuk pertama kali. Belajar dan riset akan aku lakukan sebelum aku melakukan sesuatu. cukup aneh kan? tapi, mau bagaimana lagi karena aku tidak berencana berubah. Sebenarnya, menjadi begini kadang melelahkan. Lalu, bagaimana jika tidak sesuai perkiraan? Yasudah, mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha sebaik mungkin.

Kopi. ya setiap hari aku hampir beli kopi dan minum kopi. Cuma segelas saja kok dan tidak minum minuman berwarna. Kopi dan air putih, itu saja. Menunya juga itu-itu saja. Kedai kopinya juga sama, itu itu saja. Tidak ganti-ganti. 

Awalnya, aku coba minum kopi hanya untuk menunjang begadang saat kuliah sarjana dulu. Yaps, setiap malam begadang, nulis atau kerjain tugas skills lab, susun laporan, agar memiliki kekuatan untuk itu semua, aku minum kopi. Dulu, aku minum kopi sachet je. Dunia perkopianku semakin parah saat 9 bulan susun skripsi, aku bisa minum 2 gelas sehari. Menurutku, itu gaya hidup terburukku. Aku overthinking dengan keadaan ginjal, lambung dan segala macamnya, tapi aku juga tidak berhenti.

Saat masuk koas, aku sudah mulai beralih ke kopi racikan, yaps menguras dompet pastinya. Aku juga mengatur kopiku hanya segelas sehari. Tidak lebih. inilah kecanduan. Aku kecanduan untuk melakukan hal secara teratur, berulang, dan butuh persiapan.

Obsesi terbesarku saat SMA dulu adalah menjadi yang 'terbaik', aku sama sekali tidak peduli dengan menjadi 'nomor satu'. Semenjak masuk kuliah, obsesi itu terkikis sedikit demi sedikit dan menjadi kebalikan. Ah, aku juga mulai mengumbar perasaanku dan targetku pada mereka-mereka. Alahai, ada-ada saja. Mencoba kembali ke obsesi awal ah susahnya minta ampun, bagai dorong batu sebesar diri sendiri.

Menjadi yang terbodoh dikelas itu tidak menyenangkan, aku sudah mencobanya. Jika sudah diberikan cap untuk pertama kali sebagai biang kerok, maka kedepannya akan terus begitu. Mau usaha sebesar gunung pun, tak ada gunanya lagi. Pandangan pertama adalah penentu hidup kedepannnya. Manusia ini sepertinya memang subjektif, jadi mau dikata 'netral' tetap saja akan berpihak 'tipis-tipis'.

Menjadi orang baik juga tidak menjadi rekomendasi sepenuhnya. Orang baik dan mengikuti aturan itu sering disalahpahami. Di cap bodoh juga. Sepertinya menyeleweng sedikit tidak ada salahnya (aku tidak merekomendasikannya dan aku tidak melakukannya), untuk memuluskan jalanmu. Jika menjadi seperti itu, tidak ikut aturan pun akan lolos mulus lancar jaya. sedangkan, menjadi orang baik, saat sedikit tidak ikut aturan, maka akan diperlakukan bagai menghancurkan separuh bumi ini. Sanksinya besar. Mau marah? Hei, inilah hidup.

Isu hidup dan Social issue sebenarnya topik paling seru dibahas ditongkrongan, bersama orang yang tepat. Kalau tidak, ya menjadi ngang ngeng ngong aja. Tulisan ini aku tidak akan bahas social issue, karena itu cukup menjadi tugas band ibukota saja. Mari bahas personal issue-ku saja. 

Malam ini, aku merasa sendiri, meskipun sudah berdiri dalam shaf shalat yang sebarisnya mencapai puluhan orang itu. Aku juga mendengar ayat suci Al-Quran yang sangat merdu dengan irama yang membuat hatiku sejuk. Sebelah kananku juga berdiri temanku. Dia shalat bersamaku, tetapi aku merasa sendiri.

Aku merasa dunia sedang melempar kotoran ke mukaku. Mereka-mereka meninggalkanku setelah merayakan kemenangannya. Aku berjalan di baris terakhir, menunggu mereka menoleh, tetapi tak kunjung juga. Sebelum itu, mereka mengejarku, bagai tak melepaskanku hingga kapanpun. Hari ini, aku merasa sendiri.

Tak terduga, seseorang menoleh ke arahku, datang lalu memelukku, tetapi bukan dari golongan mereka. Golongan yang lain. Aku membuka tubuhku untuk menyambutnya, tetapi dia bilang "jangan terburu-buru". Aku terdiam. Benar. Aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan atas semua ini.

Aku tidak teliti. Tidak serius. Oportunis. Pelanggaran. Polos. Bodoh. Tidak Peka. Tidak berprinsip. Terburu-buru. Apakah ini adalah hasil dari kehilangan obsesi-ku? Tidak ada yang tahu, kecuali aku dan aku tidak ingin memberitahu jawabannya. Cukup aku saja.

Friday, April 22, 2022

Nyata


 I love being alone, but i hate being lonely. Aku sudah dibiasakan sendiri sejak kecil, malah aku kira diriku ini adalah anak tunggal. Siapa yang patut disalahkan atas pemikiranku saat itu? jawabannya tidak ada. Karena tidak ada yang menduga dipikiran anak kecil akan muncul pikiran seliar itu.

Aku tidak suka keramaian. Saat aku tertekan, maka aku bisa diam sepanjang jalannya keramaian tersebut. Aku bisa digolongkan introvert, tapi aku juga bisa menjadi ekstrovert saat aku mau. Semuanya tergantung situasi.

Beda cerita jika sedang bersama teman dekat, maka aku akan banyak cerita dan ada saja bahan yang bisa kubicarakan. Jika mereka menyadarinya, tadi itu aku sedih dan aku marah. Aku tidak suka lukaku diungkit karena aku tidak mengungkit luka orang lain semudah itu. Aku tidak suka lukaku dibanding-bandingkan karena aku tidak membandingkan luka orang lain. Setiap luka itu berharga. Luka itu tempaan untuk keberhasilan. Menurutmu sepele, tetapi tahukah? aku ingin mati menghadapinya. Kamu tahu? nomor sepatu kita berbeda. Aku sangat berharap untuk dimengerti. Aku butuh progres dan aku tahu kalian juga butuh progres. Tolong sedikit mengerti bahwa duniaku memang benar hancur untuk saat ini karena masalah ini. Aku tidak sedang bercanda. Malah, dipikiranku yang sempit ini ada keinginan menyerah, lalu berhenti.

"Mungkin ini belum waktunya. Tuhan punya jalan dan waktu terbaik."

ini adalah nasehat yang kupegang. Inilah optimis tersembunyi diantara pesimis. you know? untuk bisa kembali berpikir positif setelah diterpa kejadian-kejadian diluar ekspektasi itu tidak mudah. Aku butuh menangis berjam-jam terlebih dahulu, berpikir sendiri, makan sendiri, lalu bisa pikiranku kembali waras.

"Ada nangis sit setelah itu?"

Bukan berniat bohong, tapi aku akan jawab "gak kok.", faktanya aku nangis tengah malam hingga mukaku bengkak. Aku terlalu malas untuk mengakui jika aku menangis, secuprit omong kosong yang kubagikan hanya agar tidak dianggap remeh. Sungguh menyedihkan.

Aku alergi hampir semua makanan, makanya aku tidak suka makanan yang dicampur karena aku tidak tahu apa saja yang sudah dimasukkan ke dalam situ, jadi sulit untuk diidentifikasi. Aku merasa tidak dihargai, jadi aku mohon untuk berjarak. Tidak perlu dicari, cukup instropeksi saja.

Melihat rangkuman nilai yang diberikan, bagai bom yang dilempar ke muka. Sangat mencengangkan. Apalah daya usaha, tak dinilai dengan sesuai. Mengambil materi orang, langsung meluncur mendapatkan yang tertinggi. Sungguh ingin mengomentari, tapi bukan pemegang kekuasaan.

Inilah kenyataan yang perlu dihadapi di waktu ini dan umur segini. Tak perlu sangat, sangat bersedih, sangat senang. Inilah hidup, cukup ikuti aliran yang ada, lalu jadilah maka jadilah.


Wednesday, March 16, 2022

Kamu


Aku membuka pinterest, bukan untuk mencari inspirasi, hanya melihat-lihat saja untuk refreshing mata disela-sela belajar. Menurutku, ini sangat bagus, aku mendapatkan kata-kata bagus.

"Membunuh manusia itu sederhana, isi penuh harinya dengan cinta, lalu tinggalkan ia bersama harapannya." - Zhafir Khairan Akalanka

I dont know him/her. Aku mendapatkan kata-kata ini secara random, but cukup membuatku cukup lama berhenti dan membaca berulang-ulang, lalu memikirkannya and, I get the point. 

Dia "baik" kepadaku itu bisa kuartikan sebagai "cinta", setelah itu dia menghilang itu bisa kuartikan "tinggalkan ia bersama harapannya." Kesedihan yang muncul pasca dia menghilang itu "membunuh manusia itu sederhana." 

Aku tidak suka dekat dengan orang baru dan aku juga kurang nyaman jika tiba-tiba seseorang datang padaku lalu bertanya hal-hal yang deep padaku. Aku juga kadang tidak mau menjelaskan dan tidak akan memberikan apa yang mereka mau dariku, karena aku takut akan kecewa.

Memang benar, kita tidak bisa mengharapkan sesuatu itu akan kembali kepada kita, tapi aku merasa saat aku membuka diri pada orang baru, maka disitu sudah terbangun harapan secara tidak sadar. Dia yang akan berbuat baik padaku, lalu setelah mendapatkan mau nya, maka dia akan pergi. Lalu, dia akan menghilang. Aku? ya akan berkubang dalam kesedihan. Aku tidak bisa membiarkan diriku terluka, karena diriku ini berharga. Maka dari itu, untuk mengantisipasinya aku memilih untuk menjaga jarak agar baik-baik saja. 

Hei! orang lain tidak peduli dengan luka yang mereka torehkan padaku, luka yang membuatku berdarah-darah, luka yang butuh bertahun-tahun untuk sembuh. Mereka tidak peduli. Mereka hanya peduli dengan diri mereka, sama sepertiku dan sepertimu. Jadi, aku menyimpulkan untuk mengutamakan dirimu itu terlebih dahulu.

Kamu. ya, Aku. Hanya diri ini saja yang bisa menjaga diri ini dengan baik. Saat sedih, diri ini akan berusaha untuk bangkit. Ketika marah, diri ini akan berusaha menetralkan perasaan hingga menjadi baik-baik saja. Ketika kecewa, hanya diri ini yang memberikan memberi pengertian dengan baik. Dirimu dan diriku, yaps diri ini harus dijaga baik-baik, karena tidak akan "membunuh secara sederhana."

Tuesday, February 15, 2022

Pandangan



Aku kelelahan dan ada banyak keluhan yang bersarang di kepalaku. Berlomba ingin dijabarkan, tetapi seketika terlupakan saat mendengar cerita dari yang lain. Merasa ceritaku sama sekali tak penting. 

Sudah lama aku tidak menyisihkan waktu untuk diriku, kurasa ini waktu yang tepat untukku menarik diri dari segala urusan. Aku hanya orang yang mengenali diriku dengan baik, kurasa banyak orang yang salah paham dan salah menilai tentang aku. Juga, aku terlalu merasa tidak penting untuk mengklarifikasi segala yang mereka tahu.

Aku baru saja menonaktifkan Instagram-ku, hanya untuk sementara saja karena aku ingin kembali belajar dan membuat catatan. Aku juga berusaha tidak membalas pesan yang masuk ke ponselku secepat kemarin-kemarin. Juga, ditambah aku baru saja membuat masalah, dan aku salah untuk itu semua. Aku memutuskan untuk memilih ini karena kurasa ini adalah pilihan yang paling tepat. Mundur secara perlahan. 

Tentu saja, kesepianku semakin bertambah intensitasnya. Tidak masalah. Aku hanya perlu menikmatinya dan menyelaminya dengan seksama, juga merasakan segalanya secara perlahan. Aku merasa sudah berkhianat terhadap diriku dan kepada mereka, tetapi merasa bersalah kepada dia. Jika ke depan ada perpecahan, tentunya itu secara sempurna karena diriku yang terlalu ikut campur. 

Inilah alasanku tidak ingin peduli pada siapapun, karena jika sudah peduli maka aku akan melibatkan diriku pada masalah mereka dan berusaha menyelesaikannya. Ah, aku sudah membuat pilihan yang menyesakkan. Satu pihak, sudah hilang rasa percayanya. Pihak lain, tergores hatinya karena kenyataan yang ada. Aku? aduh, tidak terlalu penting bagaimana aku. Mungkin sudah terlalu banyak luka yang terjadi padaku, hingga aku sudah terlalu biasa. Yaps, mundur perlahan dari segalanya adalah pilihan yang tepat menurutku.