Monday, February 6, 2023

Itu


Kali ini aku tidak merekomendasi judul lagu. Kali ini aku merekomendasikan satu surah yang sangat romantis menurutku yaitu surah Maryam. Surah yang diturunkan Tuhan untuk menjelaskan kepada manusia mengenai wanita yang begitu mulia dan begitu dicintai-Nya dalam kesendiriannya dan ketaatannya. Disini juga begitu romantis saat Nabi Isa diberi mukjizat bisa berbicara saat bayi dan Nabi Isa membela Ibunya. Ya Allah, kenapa bisa seromantis itu ya?

Mari kita bahas sesuatu yang random lagi. Aku baru saja menonton video di Tik Tok, isi videonya itu membahas gaya hidup di Norway. Slow living, rata-rata masyarakat disana menganut konsep ini. Aku penasaran dan membuat riset-riset kecil-kecilan mengenai ini. Setelah membaca dan membaca, aku merasa ini bisa sedikit menjadi jawaban atas masalahku. Aku rasa masalahku bukanlah tidak berambisi, tapi aku melakukan semua hal dengan perlahan dan meresapi proses yang ada, sehingga bagi orang yang tidak mengenal, mereka akan berpikir jika aku lempeng dan tidak ada tujuan, ya sedikit sama dengan konsep slow living ini.

Aku dapat kata-kata yang bagus untuk mendeskripsikan slow living ini dari website eiger. Maaf aku sedang nggak mood riset hingga paper. I think website is enough. Begini kata-katanya, Slow living bisa diartikan dengan hidup lambat, tetapi lambat di sini bukan berarti tidak berprogres, hanya saja fokusnya diubah, dari lebih cepat lebih baik ke melakukan semua hal dengan kecepatan yang tepat.

Kuncinya disini ada di fokus, yang awalnya fokusnya ke lebih cepat, tetapi merubah haluan ke menetapkan kecepatan yang tepat. Setiap orang itu spesial dan setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Si A menetapkan bulan 5 itu sudah pantas, tetapi bagi Si B itu terlalu cepat sehingga dia merasa belum pantas. Si A dan si B memiliki kecepatan yang berbeda.

Jika kita ngomongin timeline/kecepatan begini, aku jadi teringat ke pelajaran dasar di bagian ortodontik. Ini mata kuliah susahnya minta ampun, dulu pas buat logbook sambil diiringi aliran air mata yang baru berhenti kalau sudah ketiduran, eh besok pagi kelopak mata jadi bengkak dan pas di jalan ke kampus naik motor, ya Allah pedis cuy mataku karena kena angin. 

Nah, dalam menganalisis kasus ortodontik ini salah satunya kita harus analisis usia biologiknya dan usia fisiologinya pasien. Usia fisiologi itu ya kaya usia yang kita rayain ulang tahun, yang bisa dihitung angka, 1 tahun, 2 tahun ya 23 tahun. Usia yang dihitung dari hari pertama kelahiran hingga hingga hari ini. Sedangkan, usia biologik itu usia perkembangan tubuh seseorang lah bisa dibilang, perhitungannya bukan dalam angka tetapi dalam stage, ada stage I, stage II, tergantung dari metode yang kita pakai.

Kasus ortodontik itu sangat butuh tuh ketepatan antara usia biologik dan usia fisiologi, untuk menetapkan rencana perawatan dan usia biologik yang paling penting disini. Bisa aja nih usianya udah 13 tahun perempuan tetapi secara biologik dia belum mencapai stage III, yang seharusnya dia sudah melewati stage itu. eh pas di cek dengan metode lain, memang belum mencapai puncak pertumbuhan, so it's okay. Kita nggak bisa paksain tubuh pasien yang usia 13 tahun ini (usia fisiologisnya) mencapai stage III (usia biologisnya) dalam waktu itu harus tercapai terus, alias dipaksain, nggak bisa begitu bro, karena apa? karena tubuh kita ini punya waktu dan kecepatan yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang. Tubuh satu pasien dan pasien lainnya itu berbeda, makanya dibilang setiap orang itu spesial. 

Setiap orang itu spesial, jadi yang mau aku bilang itu adalah kita nggak perlu selalu menjadi cepat dan dapat target, kita bisa juga kok lambat dan belum dapat. Awalnya memang menyakitkan, lama-lama kita bisa menerimanya kok. Waktu orang itu berbeda-beda.

Mungkin kita perlu meresapi langkah-langkah yang sudah kita ambil, kita perlu menerima dan menikmati semua keputusan yang sudah kita ambil, kita perlu meneguk segelas kopi tidak terburu-buru seperti yang biasanya kita lakukan, kita perlu mengigit satu sisi donat dan merasakan betapa lembut adonannya itu, atau kita perlu duduk tanpa ada keributan di dalam kepala ini, atau bisa jadi kita perlu mengosongkan segala sifat kedengkian dan kecemburuan dari hati kita. Tuhan maha baik, kita mungkin selama ini kurang dalam menikmati nikmat-Nya. 

Oh ya, dulu juga aku kira setiap penyakit itu perawatannya harus diresepkan obat atau dikasih tindakan. Ternyata nggak. Observasi juga termasuk rencana perawatan. Observasi itu memantau, ya kita memantau perkembangan pasien, hanya memantau saja, nggak ada tindakan yang diberikan, memantau hingga kita dapat timing yang pas untuk diberi tindakan kepada pasien itu. Jadi, kadang kita hanya perlu melakukan suatu hal tanpa tergesa-gesa, secara pelan-pelan, bukan berhenti ya, tapi pelan-pelan.

Aku belum mencapai slow living concept itu, tapi sepertinya aku yang sekarang mirip seperti itu. Aku menjadi begini ya karena goals yang kubuat jauh  melesetnya, maka jadilah begini. Jadi, melambat.

Oh ya, aku nggak tau kenapa bisa fontnya bisa beda begitu.


Saturday, January 28, 2023

Lucu


Aku punya rekomendasi lagu lagi, it's 'your shirt' dari chelsea cutler. Ini menceritakan tentang gagal move on. Melodinya enak didengar. btw, aku buta nada, jadi sebenarnya aku sok tau aja. wkwkwk, ngakak bgt melihat diri sendiri. Jadi, ini enak didengar aja. dah itu aja pokoknya.

Random things always the best. This one as example. Aku sedang meresapi rasanya tidak menjadi yang pertama, tidak menjadi cepat, tidak mengikuti timeline sosial, dan menjadi yang ditinggalkan.

Perasaannya tidak enak, awalnya. Terasa ingin mengejar untuk menyetarakan. Lumayan aneh. Awalnya juga merasa cemburu, tetapi lama-lama aku bisa mengikhlaskan. Aku mengikhlaskan dan menerima jika aku tertinggal untuk melapangkan dadaku. Aku butuh merdeka. Aku harus menyayangi tubuhku dengan cara membebaskan diriku dari segala yang membuatku pusing.

Setiap perasaan tidak enak itu datang. Aku akan belajar dan merajut. Belajar apa aja yang bisa dipelajari dan merajut apa saja yang ingin kurajut. lalu, jadilah barang-barang rajut yang random juga, sesuai mood.

Nah, saat udah bisa menerima kenyataan begini. Aku yang mencari perkara untuk diriku sendiri, mengajak seseorang berbicara. Aku keterlaluan sehingga kami berbicara terlalu dalam dan berakhir dia bilang aku nggak ada ambisi.

Serius nyesek sampai bikin emosi. Kan ambisi itu nggak harus di flexing kemana-mana, cukup diriku aja tau udah. Apa aku perlu pasang IG story betapa banyaknya ambisiku. Orang yang tampak lempeng-lempeng emang dikira yang menerima diinjak-injak gitu. Ih bikin emosi aja.

Ingin kutempeleng. Btw, emosi nggak ada gunanya, yang ada bikin tekanan darah naik saja, jadi mari kita lempeng dan apatis kembali.

Ambisiku cukup aku tau saja. Apa yang kuinginkan, kumimpikan, dan kucita-citakan cukup diriku saja yang tau. Hidupku adalah milikku, jadi terserah aku saja. Bye!

Tuesday, January 24, 2023

Dekat


"Kalau berteman itu jangan terlalu dekat. Pilih teman yang bisa di bawa ke rumah, yang bisa dibawa masuk atau tetap diluar saja, yang bisa dibawa ke kamar. Itu semua harus  dipilih. Jika terlalu dekat, takutnya jika sudah berjarak gak ada obatnya."

Itulah kata guruku, nasihat yang menjadi penutup malam itu. 

Kata-kata itu tergiang-giang di kepalaku, sehingga timbul peertanyaan “bukankah itu jahat jika sudah berteman tetapi menjadikan kecurigaan sebagai penghalang? Bagaimana bisa kita tidak percaya sepenuhnya pada teman kita? Ya kalau berjarak gitu, nggak usah berteman Aja sekalian.” Inilah pertanyaan yang kemudian terjawab tanpa kutanyakan pada orang-orang. Aku mendapatkannya setelah menjalani beberapa waktu kehidupanku.

Setelah mengalami banyak kejadian, aku berubah haluan menjadi setuju dengan nasihat guruku. 

Menjaga jarak adalah kunci untuk awet pertemanan. Kita nggak perlu tahu semua hal, kita nggak perlu ingin tahu mengenai masalah yang tidak perlu kita tahu. Ada hal yang menyakitkan yang sebaiknya tidak diketahui agar pertemanan tetap langgeng. Juga, ada hal yang menyenangkan yang sepatutnya disimpan dalam-dalam agar tak menimbulkan rasa iri di hati.

Komunikasi dan pemahaman adalah pasangan untuk jarak. Kita harus memberi tahu apa yang sepatutnya saja dan kita saling memahami yang kemudian akan memunculkan sifat saling menghargai. 

Dulu aku juga kira tidak perlu set boundaries antara teman, ternyata itu perlu. Boundaries yang sama-sama paham, jika kita melewatinya akan jadi bumerang untuk hubungan kita. 



Wednesday, January 4, 2023

Lagi


Aku menunggu disemangati, tetapi tidak kunjung datang. Aku cukup naif, ternyata.

Jika dapat kembali ke masa lalu, maka akan aku jahit mulutku agar tidak berbicara hal yang aneh-aneh. Oh ya, tidak menyemangati juga. Energi positif kuberikan, lalu dilempar kepadaku tidak semangatnya.

Sungguh melelahkan selayaknya memilin benang sepanjang lapangan bola. Apa melelahkan atau kesepian? Ah, bodoh, itu saja tidak bisa dibedakan.

Disana. Iya, disana. Mereka sedang mengulas kehidupanmu dan kamu disini, sedang berlutut untuk bangkit melukis masa depanmu. Bodoh, bodoh, bisanya kamu baik pada orang sejahat itu.

Kamu kira mereka memikirkanmu? Tidak. Itu hanyalah segerombolan manusia yang memikirkan diri sendiri. Kamu? Hanya aktor dalam cerita yang dikeluarkan mulut mereka.

Kamu! iya, kamu. Jangan terlalu merendahkan dia. Dia tidak menanggapimu karena sedang menyiapkan bom yang sewaktu-waktu akan ditempelkan ke badan angkuhmu itu. Halah, jangan terlalu tinggi saat bicara, soalnya tidak terdengar. Buang-buang suara saja.

Ah, tapi bagus juga sih. Kamu merendahkannya, itu berarti kamu sudah membangunkannya. Anak tidak ada harapan itu dulunya diselimuti ambisi. Siap-siap, dia akan datang menyerangmu tepat di depan wajahmu.

Sunday, November 13, 2022

Acak

Tau gak? aku itu anaknya random pake banget. Kepalaku ini ada-ada aja isinya. Kadang aku maunya gak usah mikir. Ya, otakku diam aja. Tidak perlu aktivitas gitu. Kalau di EKG, kalau bisa garis lurus ajaa gitu. Masalahnya, gak bisa. Ada aja yang melintas di kepala cantik ini.

Aku kan maunya nge-gembel aja di rumah. Makan-Tidur-Bangun-Berak-Nonton-Rajut-Makan lagi-Tidur. Sedap benar kalau pola hidupku begitu. Skip olahraga, bikin capek, keringatku keluar, habis itu kulitku gatal. Dengan alasan, duit ngalir terus kaya taik hidung pas lagi flu. 

Kalau bisa, kasusku kelar tanpa aku gunain otakku buat mikir susunan rencana perawatannya, psikologi pasien, keramahan suasana dental unit, dental fobia pasien, drama-drama keilmuanku yang bisa dibungkam dengan satu pertanyaan dan drama-drama perkoasan ini. 8 jamku untuk tidur, sisanya semuanya buat koas. koas is lyfe.  Ya Allah, aku merasa buat nafas aja capek, apalagi buka tutup mata, huftt butuh effort.

Mungkin kalau aku hidup di jawa, sabtu minggu aku akan sibuk nyari-nyari orkestra dimana gitu, buat plong-in kepalaku ini. Yah, yang isinya acak semua.

Oh ya, bisa gak sih mie instan itu menjadi makanan yang sehat? Aku suka banget mie, segala jenis mie sih sebenarnya, tetapi mie instan yang paling mudah dijangkau. Kadang ada saat aku udah menahan diriku untuk gak makan mie, eh pas ke market, godaan besar banget untuk gak ke rak mie, alhasil aku beli lagi mie instan. hihihi..

Ya Tuhan, ternyata seacak itu yaa....

Saturday, November 5, 2022

Review : Ngeri-Ngeri Sedap (Movie)

 

Btw sebelum kita mulai, aku punya rekomendari lagu lagi buat kalian yaitu lagunya Shallou yang berjudul here. Beuh, mantap benar lagunya, vibe-nya sendu abiss. I love lagu sendu. Rekom pokoknyaa.

Sorry, sebenarnya aku akan nulis ketika puyeng sama kegiatanku selama koas ini, ya semacam pelarian gitu. Aku juga belum percaya diri kalau semisal ada yang ikutin laman ini. Rasanya aneh cuy. Okey, Mari kita bahas mengenai film satu ini, sumatera punya barang ini, batak pride. Aku bukan batak tapi aku suka dengan film yang mengangkat isu perempuan begini.

Aku tahu film ini dari temanku. Waktu itu kami sedang makan siang di kantin sambil diskusi kasus-kasus yang kami kerjakan. eh, ntah bagaimana, temanku ini malah merekom film ini.

"Sit, ke harus nonton ya." aku jawab waktu itu, "ga janji." Oh ya, di Banda Aceh ini 'ke' kami pakai kata itu untuk merujuk 'kamu'. Kadang kami pakai kata 'kamu', kalau bicara dengan yang lebih muda atau orang yang baru kami kenal. Untuk sebaya dan saling kenal, biasanya ya 'ke'.

"Sit, wajib buat ke ini, ke pasti relate karena ke anak perempuan pertama."

"Sit, iyaa wajib, ke relate karena ke selalu ngalah."

Whattt! "memangnya aku selalu ngalah ya?" aku terkejut dengan apa yang dikatakan temanku ini. Aku tidak merasa mengalah, hanya saja aku tidak bisa berdebat, jadi aku akan memilih mundur saja.

Jadi, alhasil karena aku sudah termakan bujuk rayuan teman-temanku, aku pun menonton film ini. Wah, ini film sangat relate denganku, apalagi dengan tokoh sarma. Sarma yang awalnya kukira cuek terhadap masalah keluarga.

Film ini di awal-awal membosankan. Aku disuguhkan drama keegoisan orang tuanya, ayahnya yang ingin memamerkan keharmonisan keluarganya (padahal tidak), ibunya yang hanya bisa mengikuti kemauan ayahnya (tidak cukup kuat untuk melawan keinginan ayah), 3 orang anak yang kuliah  hingga bekerja di jawa (yang tidak mau pulang padahal ibunya sudah mohon-mohon untuk pulang), dan 1 anak perempuan yang menjadi tumbal dari 5 orang egois. 

Adegan yang membuatku nangis yaitu saat ibunya membongkar jika ingin cerai itu hanya pura-pura, agar 3 anak laki-laki mau pulang ke kampung, lalu mereka bilang kecewa kalau sarma sudah membohongi mereka. Awalnya, sarma diam, karena terus dibombardir, sarma tidak tahan, dan mengungkapkan semua yang terjadi padanya, apa yang sudah mereka melakukan kepadanya secara tidak sadar.

Jujur, aku menangis hingga sesenggukan di adegan, hingga aku berpikir, "gila aku, ngapain sih seheboh itu? padahal cuma adegan film." 

Mungkin, secara tidak sadar, aku adalah sarma untuk keluargaku. Semangat anak perempuan pertama, beban yang kamu pikul berat, jadi gak ada cara bertahan hidup selain semangat.

Wednesday, November 2, 2022

Harap


 Teman-temanku sudah menyelesaikan ujiannya. Dua dari lima teman dekatku ikut juga. Aku senang. Mereka bekerja keras untuk itu, jalan yang mereka tempuh sangat berliku. Jangan lupa untuk berterimakasih kepada diri kalian sendiri, teman.

Terimakasih sudah mengingatku dengan mengirimkan pesan pribadi kepadaku sebelum kalian ujian, aku sangat tersipu sekaligus terharu. Aku tentunya tidak memiliki keberanian untuk menyapa kalian terlebih dahulu, segan rasanya, dan aku rasa sudah memalukan mengeluhkan lelahnya perkoasan dengan kalian. Mungkin ditelinga kalian apa yang kukeluhkan hanyalah dongeng-dongeng yang sudah kalian lewati. Jadi, terimakasih sudah membuka pembicaraan denganku.

Aku turut senang melihat postingan euforia kalian di sosial media. Hatiku memang terasa tersentil saat melihatnya, tapi itu hanyalah perasaan pribadiku saja yang akhirnya kubagikan di laman pribadiku ini. Setengah diriku menyalahkan diriku, "mengapa aku tidak bisa secepat kalian?", tapi setengahnya lagi berteriak, "Ini bukan kamu yang lamban, Tuhan hanya terlalu menyayangimu dengan memantaskanmu sedikit lebih lama dari teman-temanmu."

Aku tahu yang seharusnya kulakukan, yaitu menonaktifkan sosial media agar tidak mengetahui apapun sehingga aku tidak perlu bersedih begini. Aku tidak perlu iri seperti ini. Aku tidak perlu sentimentil begini. Sekarang karena tanganku yang tidak bisa diam, aku jadi menggalau begini.

Ya Tuhan, kuatkanku dalam perjalanan ini, berikanlah pikiran yang jernih untuk menghadapi ini, bersihkan hatiku dari kedengkian terhadap yang hal tidak jelas ini.

Mereka tidak salah, yang salah itu aku karena tidak bisa menahan diri. Mereka hanya mengapresiasi diri, sedangkan aku tidak bisa menjaga mataku sehingga bisa melihatnya, lalu bersedih akibatnya. Ya Tuhan, aku berserah diri padamu.

Saturday, September 3, 2022

Tidak selalu



Ada masa aku ingin menyerah dan merasa malu. Aku bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah dari aku kecil hingga lulus SMA. Menurutku, aku cukup berdoa dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak perlu memedulikan faktor keberuntungan dan orang dalam. Ah, tapi semakin kesini, aku semakin menyadari jika faktor yang kukecualikan adalah faktor yang lebih penting dari faktor yang kupedulikan.

Sekarang perjalananku lebih lambat dari yang lain, aku ketakutan. Sisi lain, aku ingin menenangkan diri dan menyalahkan keadaaan. Sisi lainnnya lagi, aku tidak mau menyalahkan keadaan, karena itu semua tidak bisa disalah. 

"Kenapa dia bisa?" 

"Kenapa aku tidak bisa jika keadaan kami sama?"

Aku merasa bersalah dan merasa terpuruk pada diri sendiri. Aku juga tidak bisa menceritakan ini pada orang lain, karena orang lain menganggap aku mampu, faktanya, "aku tidak bisa dan ingin menyerah."

Aku mencoba percaya pada diri sendiri, aku mampu dan akan mampu. Ingat! Tuhan bersamaku. Tapi, pemikiran ini hanya bertahan beberapa saat, karena di saat berikutnya akan dengan gampangnya menghilang. Kira-kira beginilah perasaanku saat awal-awal menyetir mobil sendirian, aku deg-deg setengah mati. Saat mulai mengeluarkan mobil dari pagar, aku berdoa agar sampai tujuan dengan baik dan saat sudah tiba disana, aku sudah mulai overthinking perjalanan pulangnya. Beberapa saat, aku mulai berhenti nyetir demi mendapatkan ketenangan. Setelah lama, aku menjadi gugup kembali saat nyetir. Nah, beginilah perasaanku saat mulai mengerjakan kasus pasien. Aku deg-degan setengah mati, tapi aku juga kecanduan untuk mengerjakannya hingga selesai, jika bisa hingga pasien puas dengan hasil yang sudah kuusahakan semaksimal mungkin.

Aku juga menyadari hal lainnya yaitu menangis tidak akan menyelesaikan masalahku, tapi cukup membuatku lega. Beban dipundakku rasanya terurai sedikit demi sedikit. Aku juga perlu konsisten dalam melakukan sesuatu, tidak peduli berapa banyak air mata yang keluar, berapa banyak kopi yang kuminum, atau berapa banyak keringat yang bercucuran. yang penting, selesai.

Baiklah, akan aku ceritakan satu kejadian malam ini, kejadian yang membuatku kesetrum. Beberapa bulan lalu ada satu hari adalah jadwal untuk mendaftar kerja dibagian bedah mulut, aku masih harus menyelesaikan 7 requirement pencabutan, cukup banyak kan? dimana artinya aku harus berburu jadwal setiap pembukaannya. Saat pembukaan ini akan terjadi perebutan yang mati-matian karena slot yang tersedia hanya 5, sedangkan koas yang ingin bekerja berkali lipat dari slot yang tersedia. Nama yang sudah ada di slot juga bisa jadi tidak masuk. Intinya, tidak semudah itu ferguso!

Jangan terlalu berharap. Seharusnya aku mengatakan ini berulang kali kepada diriku, dan jika lupa, maka harus diingatkan. Tadi sore karena namaku sudah terisi di slot, aku menghubungi pasien dan mengatakan pada pasien bahwa besok pagi kami akan melakukan pencabutan, eh siap magrib barulah diumumkannama koas yang sudah tentu masuk dan namaku tidak ada disana. Sudah kepalang basah, aku pusing tidak tahu cara memberi tahu pasien dan takut pasien menolakku di kesempatan kedepannya. Tapi pada akhirnya, aku memberi tahu pasien bahwa kami tidak jadi masuk untuk besok pagi dan akan dicari jadwal lagi secepatnya dan pasien juga mengancam ia mau mencabut ditempat lain saja. Mengsedih.

Beginilah fitrahnya manusia, mengejar apa yang bisa dikejar, hingga lupa kalau Mahakuasa sudah menyusun jalan dengan indah

Friday, September 2, 2022

Terhenti


Btw, aku lagi suka playlist yaeow di spotify. Bagi yang suka vibe sendu, aku sarankan untuk mendengarkan. Candu banget musiknya. Aku ga terlalu  paham makna yang terkandung dalam lirik lagu, tapi untuk tone musiknya, aku bisa kasi rate 9/10. 

Katanya, jangan lihat progres orang lain. Nikmati aja jalan yang udah ada milik diri sendiri. Setiap orang punya waktunya masih-masing kok, ya tentunya beda-beda. 

Ini ungkapan yang sering dikatakan. Ada yang mengatakan ini sekedar basa-basi, ada juga yang benar-benar. Tapi, lebih sering diungkapkan oleh orang yang sudah pasrah terhadap keadaan. Seperti siapa? ya, seperti aku ini.

Mengeluh. Mengeluh dan mengeluh. So, where my syukur? Aku tanya ke diri sendiri. Lemme tell u, mengapa aku punya pertanyaan ini. 

Beberapa bulan lalu aku ngopi, ditempat biasa, sambil buat tugas dan sambil tunggu adikku pulang sekolah. Selang 10 menit, ada saja pengamen atau pengemis yang datang, banyak metode yang mereka gunakan. Ada yang beruntung dan ada yang  dalam proses menunggu.

"Kenapa mereka memilih jalan ini?" Aku tanya ini pada temanku dan pertanyaan ini pernah juga aku tanya ke kakak iparku.

"Bisa jadi awalnya coba-coba, lalu menguntungkan, maka dilanjutkan atau mereka sudah kehabisan cara dan ini adalah jalan satu-satunya." jawab kakak iparku saat itu.

Posisiku sekarang juga adalah menunggu. Menunggu kepastian dan menenangkan diri. Ini membuatku iri pada mereka yang sedang berprogres. Mengiri di saat aku dipaksa berhenti oleh keadaan. Mungkin 10 tahun kedepan, masalah kali ini adalah masalah yang paling remeh diantara masalah-masalah yang aku hadapi. Untuk saat ini, aku seperti sedang melihat duniaku runtuh. Aku tidak bisa lagi merasa lebih bersyukur dengan membandingkan hidupku dengan hidup si pengamen. Aku sedang merasa tidak baik-baik saja dan hasil rajutanku bertambah banyak saja.

Aku sedang menunda kelulusanku sendiri. Aku sudah tidak tahu lagi titik masalahku. Aku sudah tidak memiliki pendapat untuk diriku sendiri. Aku mengikuti alur yang sengaja dibuat berliku-liku. 

5 stages of grief ku masih depression, belum sampai ke tahap acceptable. Bisa jadi aku akan kembali menghadap jika sudah tiba ke tahap acceptable. Saat itu pasti aku sudah pasrah tingkat dewa meskipun dihantam hingga sekujur tubuhku remuk. Aku tidak suka perasaan menggebu yang terpendam dalam diriku, bagai tak ada hari esok ini. Aku mencintai diriku yang rileks, yang tidak 'dapat' pun masih oke saja. Bukan begini, terburu-buru mengejar langkah mereka-mereka, meskipun aku sadar, langkahku tak sebesar milik mereka. Ah satu lagi, perasaan iri, ini membuatku seperti orang tidak waras. Seharusnya aku tidak perlu iri. Setiap jalan akan ada ujungnya, ujungku beda dengannya.

Mau tau kenapa aku jadi kaku begini? kerja sesuai aturan? sebelum bekerja memastikan diri untuk pelajari SOP terlebih dahulu? karena aku apes. Apes saat aku tidak mengikuti aturan, aku akan terjebak. Aku akan ketahuan. Aku tidak berani curang karena ini.

Aku ini sudah pasrah terhadap keadaan. Ungkapan "...setiap orang memiliki waktu masing-masing." masih saja membal di diriku, tapi makin kesini makin benar saja kata-katanya dan makin jelas saja pembuktiannya.

Friday, May 6, 2022

Sendiri


Kalian pernah duduk sendiri?

atau pernah ke cafe dan minum atau makan sendiri?

Jika pernah, apa yang kalian pikirkan saat itu?

Apa yang kalian rasakan saat itu?

Aku? Tentu pernah. Malah, akhir-akhir ini aku sering melakukannya. Bukan karena tidak memiliki teman, tetapi ada saatnya aku ingin sendiri. Jalan sendiri. Diam diruangan sendiri. Makan sendiri. Duduk di antrian sendiri. Ingin melakukan semuanya sendiri.

Kesepian? kadang perasaan ini muncul, tetapi aku melakukan sendiri itu bukan karena kesepian. Aku hanya merasa jika aku butuh sendiri. Aku suka diriku yang sendiri, saat itu. Perasaan macam apa itu? aku tidak tahu.

Ada kenikmatan yang tidak dapat kujelaskan saat aku duduk sendiri. Sibuk dengan kegiatanku sendiri. Scrolling Handphone. Baca buku. Buat tugas atau apapun itu. tanpa perlu memutar otak mencari bahan diskusi bersama teman duduk. Aku hanya melakukan apa yang aku mau, tidak terpaku kepada apapun. Aku hanya memperhatikan diriku saat itu. 

Mungkin duduk sendiri masih menjadi hal aneh sekarang ini, apalagi perempuan, khususnya di Aceh. Disini masih sistem duduk di cafe rame-rame, duduk dan berbicara dengan suara-suara besar-besar hingga satu ruangan cafe bisa mendengar curhatannya, disini masih menganut sistem ini. Orang yang duduk sendiri masih dianggap "tidak memiliki teman", "tidak memiliki kehidupan sosial", atau akan menjadi bahan omongan bagi orang duduk "rame-rame", padahal duduk sendiri itu lumrah. Apa salahnya meluangkan waktu untuk diri sendiri?

Sunday, April 24, 2022

Kecanduan


Aku adalah tipe orang yang menjalani hal secara regular dan berulang. Aku tidak suka kejutan ataupun hal dadakan. Menurutku, untuk melakukan sesuatu itu butuh persiapan. 

Aku tidak suka coba-coba, meskipun untuk pertama kali. Belajar dan riset akan aku lakukan sebelum aku melakukan sesuatu. cukup aneh kan? tapi, mau bagaimana lagi karena aku tidak berencana berubah. Sebenarnya, menjadi begini kadang melelahkan. Lalu, bagaimana jika tidak sesuai perkiraan? Yasudah, mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha sebaik mungkin.

Kopi. ya setiap hari aku hampir beli kopi dan minum kopi. Cuma segelas saja kok dan tidak minum minuman berwarna. Kopi dan air putih, itu saja. Menunya juga itu-itu saja. Kedai kopinya juga sama, itu itu saja. Tidak ganti-ganti. 

Awalnya, aku coba minum kopi hanya untuk menunjang begadang saat kuliah sarjana dulu. Yaps, setiap malam begadang, nulis atau kerjain tugas skills lab, susun laporan, agar memiliki kekuatan untuk itu semua, aku minum kopi. Dulu, aku minum kopi sachet je. Dunia perkopianku semakin parah saat 9 bulan susun skripsi, aku bisa minum 2 gelas sehari. Menurutku, itu gaya hidup terburukku. Aku overthinking dengan keadaan ginjal, lambung dan segala macamnya, tapi aku juga tidak berhenti.

Saat masuk koas, aku sudah mulai beralih ke kopi racikan, yaps menguras dompet pastinya. Aku juga mengatur kopiku hanya segelas sehari. Tidak lebih. inilah kecanduan. Aku kecanduan untuk melakukan hal secara teratur, berulang, dan butuh persiapan.

Obsesi terbesarku saat SMA dulu adalah menjadi yang 'terbaik', aku sama sekali tidak peduli dengan menjadi 'nomor satu'. Semenjak masuk kuliah, obsesi itu terkikis sedikit demi sedikit dan menjadi kebalikan. Ah, aku juga mulai mengumbar perasaanku dan targetku pada mereka-mereka. Alahai, ada-ada saja. Mencoba kembali ke obsesi awal ah susahnya minta ampun, bagai dorong batu sebesar diri sendiri.

Menjadi yang terbodoh dikelas itu tidak menyenangkan, aku sudah mencobanya. Jika sudah diberikan cap untuk pertama kali sebagai biang kerok, maka kedepannya akan terus begitu. Mau usaha sebesar gunung pun, tak ada gunanya lagi. Pandangan pertama adalah penentu hidup kedepannnya. Manusia ini sepertinya memang subjektif, jadi mau dikata 'netral' tetap saja akan berpihak 'tipis-tipis'.

Menjadi orang baik juga tidak menjadi rekomendasi sepenuhnya. Orang baik dan mengikuti aturan itu sering disalahpahami. Di cap bodoh juga. Sepertinya menyeleweng sedikit tidak ada salahnya (aku tidak merekomendasikannya dan aku tidak melakukannya), untuk memuluskan jalanmu. Jika menjadi seperti itu, tidak ikut aturan pun akan lolos mulus lancar jaya. sedangkan, menjadi orang baik, saat sedikit tidak ikut aturan, maka akan diperlakukan bagai menghancurkan separuh bumi ini. Sanksinya besar. Mau marah? Hei, inilah hidup.

Isu hidup dan Social issue sebenarnya topik paling seru dibahas ditongkrongan, bersama orang yang tepat. Kalau tidak, ya menjadi ngang ngeng ngong aja. Tulisan ini aku tidak akan bahas social issue, karena itu cukup menjadi tugas band ibukota saja. Mari bahas personal issue-ku saja. 

Malam ini, aku merasa sendiri, meskipun sudah berdiri dalam shaf shalat yang sebarisnya mencapai puluhan orang itu. Aku juga mendengar ayat suci Al-Quran yang sangat merdu dengan irama yang membuat hatiku sejuk. Sebelah kananku juga berdiri temanku. Dia shalat bersamaku, tetapi aku merasa sendiri.

Aku merasa dunia sedang melempar kotoran ke mukaku. Mereka-mereka meninggalkanku setelah merayakan kemenangannya. Aku berjalan di baris terakhir, menunggu mereka menoleh, tetapi tak kunjung juga. Sebelum itu, mereka mengejarku, bagai tak melepaskanku hingga kapanpun. Hari ini, aku merasa sendiri.

Tak terduga, seseorang menoleh ke arahku, datang lalu memelukku, tetapi bukan dari golongan mereka. Golongan yang lain. Aku membuka tubuhku untuk menyambutnya, tetapi dia bilang "jangan terburu-buru". Aku terdiam. Benar. Aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan atas semua ini.

Aku tidak teliti. Tidak serius. Oportunis. Pelanggaran. Polos. Bodoh. Tidak Peka. Tidak berprinsip. Terburu-buru. Apakah ini adalah hasil dari kehilangan obsesi-ku? Tidak ada yang tahu, kecuali aku dan aku tidak ingin memberitahu jawabannya. Cukup aku saja.